Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Amour, Kata Paling Romantis di Dunia!


Bila Anda sedang cinta-cintanya dengan pasangan, panggilan sayang apa yang paling ingin Anda miliki dari pasangan? Apakah "Sayang", "Honey", atau "Amour"?

Menurut survei yang digelar oleh sekelompok ahli bahasa, "amour" (cinta) yang merupakan bahasa Perancis adalah kata paling romantis dalam sejarah bahasa manusia. Daftar kata-kata romantis ini tak hanya yang merupakan bahasa asli, tetapi juga bahasa buatan seperti "qaparha" (aku cinta padamu) yang merupakan bahasa ras Klingon dalam serial Star Trek.

Meskipun Perancis menjadi "juara" dengan menempatkan "amour" di posisi pertama, Italia menjadi "juara utama" karena bahasa mereka secara keseluruhan dinilai paling romantis. Kata dari bahasa negeri spageti ini menduduki peringkat kedua dan ketiga dengan "amore" (cinta) dan "bellissima" (wanita cantik).

Sebenarnya, banyak kata dari bahasa Perancis, Italia, dan Spanyol yang mirip satu sama lain. Hal ini disebabkan ketiga bahasa tersebut anggota rumpun Roman. Amour terdengar seperti amore, sedangkan bellissima juga ada dalam bahasa Spanyol. Maka, penilaian ini dianggap sedikit bias. Lagipula, memangnya tak ada kata dalam bahasa lain yang dianggap cukup romantis?

Orang Amerika, contohnya, punya banyak cara untuk membuat panggilan sayang. Dari honey, baby, darling, sweety, sugar, dan lain sebagainya. Orang Indonesia juga cukup kreatif menciptakan panggilan-panggilan sayang. Bagaimana bila Anda mendengar Elizabeth Hurley atau Kate Winslet menyampaikan rasa sayangnya dengan aksen Inggrisnya? Seksi juga, bukan?

O ya, bagaimana dengan "Oel ngati kameie. Nga yawne lu oer" (I see you. I love you) dalam bahasa suku Na'vi?

READ MORE - Amour, Kata Paling Romantis di Dunia!

TEMPATKU BERPIJAK

by:Leoni Margaretha

Airmataku masih mengalir bila menyadari harus kehilangan sebagian kehidupan dan masa depanku, akibat dari kecelakaan fatal yang kualami setahun lalu. Kecelakaan yang merenggut kaki kiriku...
Kupandangi kakiku yang hanya tinggal sebelah, kaki kanan yang sendiri, tak ada teman saat berjalan, dan menopang tubuh. Namun kaki kananku tentu saja tak sesedih aku, karena akulah yang merasakan betapa beratnya hidup tanpa sepasang kaki yang lengkap.

baca Lanjutan cerita:

Kejadian itu telah merubah total hidupku, aku yang dulu riang, bangga pada diriku, selalu optimis memandang masa depan, kini menjadi pendiam, minder dan menutup diri. Hidupku telah hancur.

Apalagi ketika kekasih yang telah menemaniku selama dua tahun, Thomas, meninggalkanku. Dengan alasan yang sangat sederhana, tak ingin merawat wanita cacat sepertiku seumur hidup.

Kuhela nafasku panjang, menahan perihnya hati kala mengenang semua, kadang sampai terlintas dibenakku untuk mengakhiri hidup yang sudah tak berguna ini, yang menjadi benalu bagi orang-orang yang aku sayang. Andai saja aku tak ingat perjuangan mamaku saat mempertahankan aku, aku pasti sudah melakukannya.

Tiba-tiba saja ponselku berbunyi...kulihat nomor yang muncul di layar. Entah siapa?
"Halo..." sapaku.
"Benar ini Vivian?" tanya seorang cowok dari seberang.
"Iya, siapa ini?"
"Aku Edo, Vi...ingat?"
"Edo? Hm...Edward Raditya?" tebakku, menyebut nama seorang sahabat yang dulu sempat mengisi hariku.
"Rupanya kamu masih mengingat aku, Vi,"
"Bagaimana aku bisa lupa?" aku bahagia, karena sahabat yang dulu pernah singgah di hatiku, tiba-tiba saja muncul, setelah hampir sepuluh tahun menghilang.
"Kamu tahu nomorku dari siapa?" tanyaku penasaran.
"Gina...beberapa hari lalu aku ketemu dia,"
"Aku juga udah lama nggak ketemu Gina, sekarang dia ada di mana? Dan kamu?"
"Aku dan Gina ada di Semarang, hm...besok Minggu, aku ke Yogya, bisa kasih tahu alamatmu, aku mau ke rumahmu," kata Edo mengejutkanku. Lalu aku kembali melirik kakiku, rasa sakit hati kembali menyelimuti hatiku.
"Minggu aku pergi, Do...maaf ya," jawabku lirih. Aku tak mau Edo kecewa karena aku bukanlah aku yang dulu, yang bisa menemaninya jalan kemanapun dia mau.
"Ya udah, nggak apa-apa, tapi lain kali kalo ada waktu kita ketemuan ya?"
"Hm.. iya," aku terpaksa memberikan janji palsu, hhh...

***

Dari situ bermula kembali, hubungan yang dulu sempat terputus. Edo sering menghubungiku, meskipun belum satupun pertemuan yang dia ingini, aku iyakan. Aku tak kan membiarkan Edo tahu, kalo aku cacat! Aku tak mau dia seperti temanku lain, yang memandangku sebelah mata, terlalu mengasihaniku atau menghindariku karena tak mau direpotkan. Karena itulah, aku terpaksa terus berbohong...maafkan aku, Do.

***

"Vi, aku nggak sabar pengin ketemu kamu nih...besok aku ke Yogya ya? Aku udah dapat alamat kamu dari Gina kok," kata Edo, lagi-lagi mengejutkanku. Aku panik, dan tak tahu harus bagaimana...
"Aku sibuk, Do, maaf," jawabku.
"Kalo malam pasti di rumah kan?" tanyanya penuh harap.
"Aku...aku udah pindah rumah!" aku kembali bohong! Aku benci kenapa harus terus melakukan ini.
"Kenapa kamu menghindari aku, Vi?" Edo mulai curiga,
"Aku bener-bener sibuk!" jawabku singkat. Kudengar Edo menarik nafasnya panjang.
"Vi, jujur saja aku sebenarnya ingin minta maaf sama kamu," katanya lirih. Edo minta maaf? Memangnya apa kesalahannya padaku?
"Dulu aku mengacuhkan perasaanmu, padahal sebenarnya aku tahu kalo kamu mencintai aku," Deg! Ternyata Edo tahu???
"Kamu pasti masih marah ya, karena itu kamu nggak mau menemui aku," sambungnya. Aku terdiam.
"Vi, asal kamu tahu aja ya, aku ingin menemui kamu, untuk memperbaiki hubungan kita... aku nggak pernah bisa melupakan kamu, aku sayang sama kamu, Vi," aku masih saja terdiam, hatiku hancur, dan perih... Airmatakupun mengalir deras membasahi pipi.
"Tapi aku sudah bukan aku yang dulu, Do," ucapku dengan bibir bergetar.
"Jadi kamu sudah menikah ya? Aduh, maaf...aku nggak tahu, kupikir kamu masih sendiri," kudengar Edo tertawa kecil namun aku tahu itu dipaksakannya.
"Tapi bukan berarti kita nggak boleh temenan lagi kan?" sambungnya. Kuhela nafasku panjang, mempersiapkan satu kebohongan lagi, sungguh tragis!
"Boleh...tapi jangan datang ke rumahku ya, suamiku pencemburu," kataku lirih.

***

Tok...tok...tok
Kudengar pintu rumahku diketuk. Aku segera meraih krekku dan berdiri. Betapa terkejutnya aku saat melihat sepasang mata yang dulu begitu akrab menatapku, dan sebersit senyum yang begitu melekat di hatiku...
"Edo?!?" kataku tak percaya. Sedangkan Edo menatapku dengan nanar, shock tak percaya memandang ketidak utuhanku. Dan itu terasa sangat menyakitkan untukku...
"Apa?!? Kaget?!? Sudah aku bilang kamu jangan pernah ke sini!!! Sudah puas kamu melihat aku seperti ini!!" bentakku. Namun Edo masih saja tak berkutik. Bahkan saat kututup pintu dengan keras, diapun masih terdiam. Aku menangis, hatiku hancur, sangat hancur... menyadari aku akan kehilangan Edo untuk yang kedua kali.
Tunggu...bukankah aku tak mau kehilangan Edo, lalu mengapa aku melakukan ini? Aku mengambil krekku lalu berjalan tertatih-tatih kembali membuka pintu. Namun Edo sudah tak ada di sana... aku menyesal...

Dan yang lebih kusesali, sejak kejadian itu, Edo tak pernah lagi menghubungi aku, Edo telah menghilang lagi...

***

Sebulan telah berlalu, mama memanggilku.
"Vi, ada teman kamu nih," katanya. Aku mengerutkan alisku. Teman? Bukankah semenjak kecelakaan itu, aku kehilangan semua temanku? Dengan penasaran akupun melangkah keluar.

Kulihat Edo duduk bersama mamaku. Dia melemparkan senyumnya padaku.
"Mama masuk dulu, Vi..." kata mama sambil menepuk bahuku.
"Ada apa kamu ke sini? Mau menertawakan aku?!?" ucapku ketus. Edo kembali tersenyum.
"Maaf ya, waktu itu aku pulang nggak pamit dulu sama kamu," katanya.
"Sudahlah, lupakan," kataku singkat.
"Aku punya sesuatu buat kamu...nih," katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang agak besar padaku.
"Kamu nggak perlu memberi aku apa-apa!"
"Sudahlah terima saja, aku tulus kok," Lalu aku membukanya, dan aku terkejut melihat isinya... sebuah kaki kiri palsu...aku menatap Edo tak percaya.
"Tapi ini mahal, Do..." kataku.
"Itu masih belum seberapa, Vi...ada yang lebih dari itu yang ingin aku berikan padamu," Edo menatapku lembut.
"Aku ingin memberikan kedua kakiku untuk menjadi tumpuanmu...pijakanmu, yang selalu mengiringi setiap langkahmu, dan tempatmu bersandar ketika lelah menghadapi semua cobaan hidup... Vi, aku mencintai kamu, menikahlah denganku," Edo menggenggam tanganku erat lalu mengecupnya.

Aku menangis bahagia, menyadari kecacatanku tak menghalangi Edo untuk menikahi aku, bahkan dia dengan cinta tulusnya, mampu mengembalikan rasa percaya diriku dan kehidupanku yang sempat hilang dan hancur.

Edo, terima kasih, telah memberikan harapan baru untukku.

READ MORE - TEMPATKU BERPIJAK

Nafas Jiwa

Seberkas sinar menyilaukan menusuk pupil mataku, membuatku mengerjap perlahan. Tapi tunggu! Di mana saat ini aku berada?!? Lalu kubuka mataku, namun sinar putih itu menembusnya tajam hingga membuatku kembali memejamkannya.

Saatku kembali terpejam, memoriku kuputar kembali ke beberapa waktu lalu, yang kuyakin dengan begitu aku akan tahu jawaban dari pertanyaanku, di mana aku saat ini...

Baca kelanjutan cerita:

Kulihat seorang gadis dengan senyumnya yang sangat manis bergelayut di lengan kananku, sepintas aku lupa siapa dia? Aku hanya merasa bahwa dia adalah seorang yang sangat dekat denganku. Dengan manja dia terus bergelayut seolah tak ingin lepas barang sedetikpun. Lalu gadis itu merapatkan bibirnya di telingaku lalu berbisik,

"Mas, kamu tahu nggak kenapa aku jadi seperti ini?" aku menggelengkan kepalaku.

"Karena saat ini aku bahagia, kamu tahu kenapa?" sekali lagi aku menggelengkan kepalaku.

"Aku hamil, Mas," ungkap gadis itu dengan memamerkan ekspresi bahagianya.

Ya Tuhan, kini aku ingat siapa gadis itu, dia adalah Rona, istriku yang sudah aku nikahi selama tiga tahun, istriku yang sangat aku cintai dan mencintai aku?!?

***

Aku kembali membuka mataku, masih silau namun aku berusaha untuk bisa menatap sekelilingku. Pertama yang kulihat hanya buram, namun lama-lama mulai nampak jelas. Aku berada di sebuah ruangan yang serba putih, dan beraroma obat-obatan, yah aku berada di kamar rumah sakit. Tapi kenapa aku berada di sini??? Sekali lagi aku mencoba mengembalikan ingatanku di peristiwa terakhir yang membawaku ke sini.

...(flashback)

"Ma, aku berangkat dulu ke rumah sakit," pamitku pada seorang wanita tengah baya, hm... mamaku???

"Tapi ini udah malam, Ren!"

"Nggak tahu kenapa, Ma, aku kangen banget sama Rona, lagian kan udah dari dua hari yang lalu aku belum ke rumah sakit,"

"Tapi kamu kan baru aja sampai dari luarkota?!? Apa kamu nggak cape???" aku menggelengkan kepalaku, buatku tak ada rasa capek untuk bertemu dengan istriku yang teramat aku cintai.

"Aku pergi dulu, Ma," ucapku lalu kucium punggung jemari wanita yang telah melahirkanku itu.

"Iya, tapi hati-hati di jalan ya,"katanya. Aku mengangguk.

Lalu aku pergi dengan mobil warna hitamku, tak seberapa lama, aku mendengar bunyi ponselku, bip... tit... dit... aku mengangkatnya.

"Kak Rendra, ini Marsha, barusan aja kak Rona menggerakkan jarinya, cepetan ke sini ya Kak,"

Lalu akupun segera melesatkan mobilku melebihi batas kecepatan normal, aku ingin segera melihat Rona bangun, aku tak sabar ingin melihatnya sadar, setelah sekian lama koma... koma???

***

Aku segera beranjak dari tempat tidurku, menyadari bahwa Rona koma, dan itu artinya aku harus bergegas menemuinya...

Akupun melangkah keluar dari kamarku, anehnya aku masih mengenali koridor menuju ke kamar tempat Rona dirawat. Akupun segera berlari ke sana, berharap melihat Rona telah tersadar dari tidur panjangnya.

Sesampainya di depan kamar itu aku masuk, namun masih saja beribu
kecewa kurasakan, karena Rona masih saja aku temukan terbaring lemah di sana. Lalu aku melangkah mendekatinya. Kusentuh keningnya lalu bibirnya, masih saja tak bergerak. Kuhembuskan nafasku panjang seraya menggenggam erat tangannya yang kurang lebih selama dua bulan membeku.

Lalu tiba-tiba saja sepenggal ingatanku kembali lagi.

...(flashback)

"Selamat, Pak, anak anda laki-laki," kata seorang dokter sesaat setelah keluar dari ruang persalinan.

"Lalu bagaimana dengan istri saya, Dok?" tanyaku panik. Dokter itu diam, lalu menarik nafasnya panjang,

"Istri anda banyak mengeluarkan darah, dan sampai sekarang dia masih belum siuman, teruslah berdoa Pak, hanya Tuhan yang bisa membantunya, sedangkan kami team dokter hanya bisa berusaha."

Bagai petir menyambar kepala dan hatiku, hancur berkeping-keping.

***

Tanpa sadar airmatakupun meleleh untuk yang kesekian kalinya. Aku kecewa jelas kecewa karena Tuhan tak mendengarkan doa yang kupanjatkan untuk Rona. Yang aku inginkan tidaklah banyak dan sulit, aku hanya ingin Tuhan memberikan yang terbaik untuknya, entah itu sadar ataupun pergi untuk selamanya... asalkan jangan membuatnya menderita seperti ini, terjebak diantara dua dunia... aku tak rela Rona harus merasakan semua ini?!?

Secepatnya kuhapus airmataku saat kulihat pintu kamar terbuka perlahan, Marsha, adik Rona, bersama seorang pria tengah menggendong tangan seorang anak berusia sekitar lima tahunan masuk ke dalam. Lalu anak itu turun dari pelukan pria itu dan berlari mendekatiku... hm, bukan... dia mendekati Rona.

"Mama, bangun, Ma, ini Rendra..." kata anak itu sambil menyebut namaku. Namaku? Bukan?!? Nama anak itu sama dengan namaku?!? Rona membuka matanya perlahan lalu tersenyum. Demikian juga dengan pria itu,

"Maafin aku ya, aku terlambat, jadi nggak bisa nemenin kamu melahirkan, tapi aku sudah melihat anak kita kok, dia cantik seperti kamu," katanya mengejutkanku.

"Aku yang harusnya minta maaf, San, nggak nungguin kamu datang... Kamu nggak keberatan kan? Aku ngotot untuk melahirkannya tepat ditanggal, hari dan jam yang sama dengan waktu kematian Mas Rendra? Dan aku juga ngotot untuk di tempatkan di ruangan ini agar..." kata Rona lalu menangis. Pria itu mengelus rambut Rona lalu berkata, "Sudahlah... aku bisa memakluminya kok."

...(flashback)

Aku melihat traffic light berwarna merah lalu sorot lampu menyilaukan sebuah kendaraan besar muncul dari arah kanan... tampak begitu jelas di mataku, dan dengan begitu cepat mendekat!!!

***

Segera kulepaskan tanganku dari tangan Rona, tubuhkupun bergetar, shock! Dan ternyata itu membuat Rona seperti menyadari kehadiranku. Matanya lembut menembus mataku, tepat! Meski mungkin dia tak benar-benar bisa melihatku.

"Agar kamu bisa menemui aku, Mas, maafkan aku," desisnya pelan, namun sangat jelas terdengar di telingaku.

***

Namun setidaknya aku kini bisa pergi dengan tenang, karena Rona kini telah hidup bahagia, meskipun bukan bersamaku lagi.

Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan doaku untuk Rona, Kau telah memberikan yang terbaik untuknya, meski bukan yang terbaik untukku. Namun aku tetap merasa bahagia...

***

Tercatat waktu kematian Rendra: Selasa, 6 Januari 2004 pukul 00.15
Dan waktu kelahiran: Selasa, 6 Januari 2009 pukul 00.15



READ MORE - Nafas Jiwa

Kenang..., Terbanglah!

by Leoni Margaretha

Bibirmu terkatup menggaris
Membisu tanpa larik frase yang ingin kudengar

Kenang..., apa yang membuatmu takut?
Apakah doktrin-doktrin itu telah membungkam bebasmu?
Membatasi ruang batinmu bak kasa abadi
Ataukah hanya karena emosimu sejenak labil?

Sehingga hanya untuk curahkan sepercik elegi saja
Mulutmu masih tak mampu bicara

Kenang..., aku adalah sahabatmu
Tumpahkan seluruh peluh resahmu di dekapku
Sejenak lupakan peradaban yang ada
Terbanglah sebebas elang di luas angkasa

READ MORE - Kenang..., Terbanglah!