Ternyata Suamiku Pembunuh Berdarah Dingin?!?
08.41
Diposting oleh Melany Christy
Kupandang wajah suamiku diremangnya sinar lampu kamar. Begitu damai dan lembut, sama sekali tak memancarkan amarah, atau kebengisan. Selayaknya perilaku yang dilakoninya sehari-hari, sabar dan bersahaja. Aku tersenyum melihat matanya yang terpejam, lalu kusentuh lembut rambutnya., dan sekali lagi kubisikkan kata cinta, sebelum akhirnya aku kembali melayangkan sukma ke alam bawah sadarku.
BRAK! GLEDEG! DUG!
Aku dan suamiku terperanjat mendengar suara itu. Suara yang berasal dari luar kamar.
“Anak-anak bangun?” Akupun segera beranjak, untuk menemui dua buah hatiku, namun suamiku melarangnya.
“Jangan, Ma, sebaiknya biar aku aja, karena biasanya anak-anak kan nggak pernah bangun malam-malam gini!” bisiknya. Iya juga sih, anak-anak memang kalau sudah tidur, tak pernah bangun hingga menjelang pagi. Lantas siapa yang bersuara itu? Maling?
Kulihat suamiku mulai beranjak dari tempat tidur, kupegang tangannya,
“Hati-hati ya, Pa,” Suamiku mengangguk. Sambil menjinjit dia membuka pintu dengan sangat pelan, mencari dari mana suara itu berasal. Sementara aku hanya bisa melihatnya dari balik pintu, ke mana suamiku melangkah. Suamiku menuju ke belakang rumah, lalu kembali lagi sambil membawa sebuah balok kayu. Untuk apa??? Separah itu kah? Hingga suamiku harus membawa balok?
Karena penasaran diam-diam aku mengikuti suamiku dari belakang, ternyata suamiku menuju ke dapur yang cukup gelap, karena hanya mendapatkan penerangan dari lampu taman yang menembus melalui jendela. Dan benar saja, terlihat sesosok bayangan hitam, mengacak-acak isi almari dengan cueknya, tanpa tahu kami ada di belakangnya. Lantas kulihat suamiku mengayunkan balok itu dan Brakkk! Suamiku memukul kepala maling itu sekeras mungkin, hingga maling itu terjatuh dan terkapar di lantai. Lalu suamiku menyalakan lampu dapur untuk melihat si maling lebih jelas! Namun ternyata si maling masih bergerak, sekali lagi suamiku mengayunkan balok itu tepat di kepala dan Croootttt!!! Darah muncrat ke mana-mana, percikannya mengenai setiap perabot yang ada di sana. Tapi itu tak membuat suamiku berhenti memukul kepala maling itu, suamiku terus memukulnya sampai berulang-ulang kali, maling itupun tak bergerak lagi, mati! Dengan otak yang berhamburan keluar melalui lubang mata dan telinga. Pemandangan yang teramat sangat mengerikan, yang baru sekali ini kulihat di sepanjang hidupku. Dan yang lebih mengerikan lagi ternyata… suamiku adalah seorang pembunuh berdarah dingin!
Kututup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Aku tak percaya, suamiku bisa begitu tega melakukan itu, dengan tanpa perasaan! Suamiku yang berwajah baik dan lembut itu ternyata berdarah dingin dan sadis! Tubuhku gemetar sangat ketakutan, apalagi saat kulihat dia dengan tanpa perasaan mengelap darah dan otak yang berceceran dengan menggunakan tissue!
“Aku nggak nyangka papa bisa begitu sadis!” kataku masih dengan mulut yang bergetar. Sementara suamiku terkejut menyadari kehadiranku.
“Sejak kapan mama berdiri di situ?!?” tanyanya.
“Dari tadi, Pa…,” Suamiku menatapku.
“Aku benci ada yang menyusup ke rumah kita dan mengambil apa yang kita punya, Ma! Dan aku juga nggak mau anak kita, keluarga kita jadi korbannya! Daripada itu terjadi, mending aku habisi dia duluan kan?!?” Suamiku benar, hanya saja aku shock melihatnya melakukan itu.
“Sebenarnya aku juga nggak ingin ngelakuin ini, Ma, tapi aku terpaksa memukul dia sampai mati! Andai saja bisa kutangkap pasti aku tangkap! Tapi Mama tahu sendirikan dia itu gesitnya kayak apa? Bisa-bisa lari duluan sebelum ketangkap!” Aku mengangguk, membenarkan ucapan suamiku, tapi dasarnya aku orangnya tidak tegaan, tetap saja kejadian itu terlalu sadis untukku.
“Lagi pula sebelum memukulnya aku udah minta maaf dulu kok sampai berulang-ulang kali lagi, malahan sempet memohon supaya Tuhan mengampuni aku, hanya saja tadi Mama nggak denger karena terlalu jauh,” jelas suamiku, kali ini membuatku tersenyum.
Dasar suamiku berhati lembut, mau membunuh tikus saja pakai doa dan minta maaf dulu, benar-benar aneh… Tapi setidaknya aku kini sedikit merasa lega, karena nyatanya suamiku tak sesadis yang aku kira!
Rumah Itu...
07.31
Diposting oleh Melany Christy
Hari ini adalah hari pertama aku bersama mama papaku menempati rumah baru, setelah rumah lamaku laku terjual. Entah apa sebabnya papa menjual rumah yang sudah terlanjur kusayangi itu dengan pindah ke rumah kuno yang hampir seluruh cat dindingnya mengelupas ini. Rumah antik bangunan Belanda, kata mama yang kudengar ketika berbincang dengan papa. Yah, benar-benar antik kurasa, lihat saja pintu dan jendelanya yang besar dan tinggi, dan kamar-kamar yang sangat luas dan lembab, dengan langit-langit yang dua kali lebih tinggi dari biasanya!
Dan malam ini kamarku hanya mendapat pantulan sinar lampu dari luar jendela dan lubang udara. Selain itu juga udara kurasakan sangat dingin. Saking dinginnya sampai membuat tubuh mungilku menggigil dan gigi-gigiku bergemeretak keras. Sedangkan kepalaku terasa sangat berat bagai tertindih sebuah batu besar, mata dan dadaku terasa sangat panas. Ada apa denganku?
Sayup-sayup kudengar suara gamelan di antara denging telinga. Suara itu makin jelas terdengar hingga menembus dinding kamarku. Kucoba membuka mataku yang mulai perih, memastikan tak ada seorangpun yang mencoba mengiburku dengan memainkan musik aneh itu. Dan ternyata memang tak ada seorangpun bersamaku kecuali aku dan bayangan… Bayangan? Kulihat pantulan sinar lubang udara yang tergambar di dinding, tidak sepenuhnya kotak, sebagaimana bentuknya, tapi… seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu. Penasaran, kumiringkan kepala menatap ke lubang itu, dan… kulihat di sana…
Sebuah kepala hitam berambut, bermata merah, semerah darah dengan seringai senyum yang mempertontonkan deretan gigi kuning dan runcing. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, bagaimana mungkin manusia bisa memanjat lubang udara setinggi itu? Manusia? Bukan! Itu jelas bukan manusia! Kucoba mengerjapkan mata berulang kali, tapi ternyata sosok itu tak mau pergi… malah kini terus menerus menggeleng berusaha agar bisa masuk ke lubang itu, dan lama kelamaan dia berhasil semakin melesak ke dalam, seolah ingin menghampiriku. Ini mustahil, tak mungkin ada yang bisa melakukan itu, lubang itu terlalu kecil, kalaupun bisa masuk paling hanya kepala saja… tapi ternyata... memang hanya kepalanya yang masuk, karena tak ada tubuh yang menempel padanya… apa yang harus aku lakukan??? Sedangkan suara nafasnya yang bergemuruhpun mulai terdengar… gruk… gruk… gruk… disertai aroma seperti kambing basah bercampur anyir darah yang menyeruak menusuk tajam ke dalam lubang hidungku!
Aaaahhhhh!!! Akupun menjerit sebelum makhluk kepala itu berhasil menghampiriku. Klik, lampupun menyala dan Mama masuk ke kamarku dengan panik,
“Ada apa, Nit? Kamu kenapa?” Mama memelukku erat.
“Ya ampun Nit, badan kamu panas sekali, kamu demam! Sebentar mama ambil obat dulu!” kata mama seraya beranjak akan meninggalkanku. Karena takut aku menahan tangan mama.
“Mama, jangan pergi, Nita takut!” kataku dengan suara gemetar. Mama tersenyum.
“Takut apa sayang?”
“Ada monster kepala yang mau masuk lewat lubang udara, Ma…,” kataku. Mama kembali tersenyum lalu mengelus kepalaku.
“Monster itu nggak ada, Nit… itu cuma khayalan kamu aja, karena kamu lagi demam,”
“Nita nggak berkhayal, Ma, Nita juga dengar ada musik Jawa,”
“Nita, seorang anak yang lagi kena demam biasanya memang begitu, pikirannya jadi kemana-mana, kamu nggak usah takut ya…,” mungkin ucapan mama benar. Karena saat kulihat ke lubang udara, monster itu benar-benar tak ada. Akupun lega. Lalu kubiarkan mamaku meninggalkan aku sebentar untuk mengambil obat. Yah setidaknya mama membiarkan lampu dalam keadaan menyala….
Tapi apa yang terjadi?
Suara gamelan kembali terdengar dan monster itu… kembali tersenyum padaku, masih melalui lubang udara yang sama.
“Ini cuma khayalanku…, ini cuma…” pikirku sambil menutup mata dan mengatur degub jantungku yang mulai mengencang.
Gruk…gruk…gruk… ya Tuhan, nafas berat itu tepat terdengar di telinga kananku, semakin jelas dan semakin jelas… dan bau itu...
Aaahhhhh!!! Aku kembali berteriak sekuat tenaga. Namun kali ini mama tak datang. Lalu akupun kembali berteriak… mama benar-benar tak datang. Ke mana mama? Kenapa mama membiarkan aku yang sedang sakit ini sendirian, bersama monster yang sangat mengerikan! Bagaimana kalau ternyata monster itu memakanku? Mama……
Lalu kuberanikan diri untuk membuka mataku…
Byaaarrr! Silau oleh sinar yang sangat terang, akupun kembali terpejam. Lamat-lamat kudengar suara orang berbicara,
“Maaf, Bu, saya sudah berusaha, tapi tetap Tuhan yang menentukan,” Lalu terdengar tangis yang menderu-deru… kulihat mama dan papa berlari ke arahku, tidak! Bukan ke arahku melainkan pada seonggok tubuh yang tertutup selimut dari ujung kepala hingga kaki. Siapa itu? Kenapa mama dan papa menangisinya? Dan ketika mama membukanya dan menciuminya barulah aku melihat siapa sosok itu… adalah aku! Aku terkejut lalu terdengar suara tepat di telinga kananku… gruk… gruk… aku menoleh. Dan ternyata monster itu telah ada di sampingku, tanpa perasaan ngeri aku membiarkannya membawaku, menuju ke arah suara gamelan…
***
Anita adalah anak ke duabelas yang meninggal di rumah itu. Rumah yang menyimpan misteri oleh adanya roh penari Jawa penculik anak-anak yang konon dibunuh suaminya dengan cara dipenggal dan dibakar lantaran tak bisa memberi keturunan. Uniknya semua anak yang hendak diculik mengalami gejala demam yang sama. Setelah kejadian itu, rumah tersebut dirubuhkan setelah diberi sesajen selama 40 hari 40 malam.
