Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Puisi "Tuhan, ambil saja Nyawaku "

by Leoni Margaretha

Tuhan ambil saja nyawaku
Bila senyum dari bibir
Adalah tangis nelangsa
Di hati...

Tuhan angkat saja rohku
Bila orang yang kuharap
Yang kucinta sampai akhir hayat
Tak lagi buat rasa nyaman...

Tuhan tarik saja nafasku
Bila tak ada arti lagi
Yang ingin kuraih
Dalam hidup ini...

Tuhan cabut saja jantungku
Bila tak lagi dapat
Yang kucari di dunia ini
Kebahagiaan...

READ MORE - Puisi "Tuhan, ambil saja Nyawaku "

Kenang..., Terbanglah!

by Leoni Margaretha

Bibirmu terkatup menggaris
Membisu tanpa larik frase yang ingin kudengar

Kenang..., apa yang membuatmu takut?
Apakah doktrin-doktrin itu telah membungkam bebasmu?
Membatasi ruang batinmu bak kasa abadi
Ataukah hanya karena emosimu sejenak labil?

Sehingga hanya untuk curahkan sepercik elegi saja
Mulutmu masih tak mampu bicara

Kenang..., aku adalah sahabatmu
Tumpahkan seluruh peluh resahmu di dekapku
Sejenak lupakan peradaban yang ada
Terbanglah sebebas elang di luas angkasa

READ MORE - Kenang..., Terbanglah!

Biarkan Aku Menjadi Aku

Berhenti sebentar
Biarkan aku menjadi aku
Sebentar Saja
Hanya satu hari dua malam
Hanya jumat malam sampai minggu pagi
Biarkan aku menjadi aku

Minggu pagi sampai Jumat sore aku bukanlah diriku
Minggu pagi sampai Jumat sore aku bahkan tak tahu siapa aku

Berhenti sebentar
Biarkan aku menjadi aku
Memiliki diriku yang aku kenal

Biarkan aku menjadi aku
Yang mengindahkan perasaanku, bukan mengabaikannya
Yang mengakui lelah dan peluhku, bukan melawannya
Yang melakukan apa yang aku suka, bukan berpura-pura suka pada apa yang aku lakukan

Aku lelah
Berhenti sebentar
Biarkan aku menjadi aku... Sebentar saja

READ MORE - Biarkan Aku Menjadi Aku

Kau pesona malam

Gemerlap lampu cahaya kota seolah menari mengajak berdansa
di himpit gelisah membelah murka
tiada suka tetap kau rasa menyelami malam hina ranjang berdansa
tersingkap sutra penutup raga menampak paha membakar jiwa
kau pesona malam...
Bunga sorga melambai nista
memaksa...
Kau petik dengan tangis melanda meradang luka membusuk di jiwa
tiada adam yang meminta pelukan hangat setulus cinta
hina nista di mata dunia
kau pesona malam...
Tangis mu tiada arti laksana anjing di mata ulama
Jajakan pesona bersama arak tawarkan hangat hanya sekejap
waktu hampir pagi
kau masih tertawa bersama iblis penguasa dunia
tangis rengek meminta kau kembali bersama sisa cinta yang kau punya
kau pesona malam...
Menjadi dewi bersama mentari...
Terbuang waktu yang berlalu...
Kau pesona malam...
Di pundak mu menggelayut beban...
Kau pesona malam...
Bagai rembulan tapi tak bersinar...
Hardik bengis menjadi sarapan
celoteh mereka laksana petir
Berkilat...
Ganas...
Menyambar dan menyumbat di ulu hati...
Ikhlas hati membumbung tinggi pada illahi...

READ MORE - Kau pesona malam

Mie Instan, Presiden kami


Sejak jadi anak kosan, kami begitu setia
Pada hal-hal yang berbau instan: mandi
Instan, tidur instan, belajar instan, serta
Menyeduh mie instan yang sudah
Kami angkat jadi presiden

Kami lupa merknya. Kami cuma ingat irama
Iklannya yang sering kami dengarkan di jeda
Pelajaran dan kardusnya yang kami letakkan
Di atas lemari pakaian, tempat kami menyimpan
Baju-baju, foto-foto, dan asumsi-asumsi
Tiap kebijakan yang sering kami bahas setiap
Kami ingat, kami ingat kami anak kosan yang
Harus baik-baik dalam merencanakan anggaran

"Mie Instan, Presidenku..."

Kami bernyanyi di tiap jalan, teriak di jalan-jalan
Dengan nama-nama yang tertera, tapi tak kami
Kenali. Sampai nama Presiden kami yang asli,
Kami lupa.

Kami disiram gas airmata tiba-tiba, ada yang tak
Suka jika mie instan jadi presiden. Kami berhamburan
Menjerit-jeritkan mie instan dan iramanya
Yang sudah terlanjur melekat di hati kami

Sampai kami kembali ke ruang kelas.

*

Di ruang kelas, kami turunkan foto Presiden yang asli,
Dan kami gantikan dengan mie instan kesukaan kami
Sampai garuda yg menoleh ke kanan itu
Menyunggingkan senyuman, tanda setuju
Mie instan sebagai presiden baru.

READ MORE - Mie Instan, Presiden kami