Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Coelacanth, Ikan "Bertangan"


Pengunjung melihat replika ikan purba jenis coelacanth yang dikenal sebagai sea king (Latimeria menadoensis) pada Pameran Iptek dan Industri Bahari 2008 di Surabaya, yang berlangsung sampai Minggu (8/6). Ikan langka dari zaman prasejarah yang ditemukan di perairan Sulawesi Utara itu kini menjadi simbol kekayaan bahari Indonesia untuk dunia ilmu pengetahuan.

Tak butuh waktu lama untuk sebuah kejutan langka, seperti dialami peneliti oseanografi LIPI, Augy Syahailatua, ketika bersama peneliti lain melihat langsung keberadaan ikan purba coelacanth.

Kejutan itu terjadi pada siang hari tanggal 27 Juni 2007 di Malalayang, Teluk Manado, Sulawesi Utara.

Siang terik itu, kapal kayu peneliti baru sekitar 30 menit bergerak dari pantai Kota Manado. Kurang 500 meter dari tepian pantai, wahana bawah laut tanpa awak atau remotely operated vehicle (ROV) menangkap obyek utama penelitian ikan coelacanth. Data ROV mencatat, obyek berada di kedalaman 190,2 meter hingga 195 meter. ”Kami beruntung. Tentu gembira sekaligus terkejut,” kenang Augy.

Kenapa disebut beruntung dan terkejut? Berdasarkan catatan resmi survei biologi museum ilmu kelautan Aquamarine Fukushima, Jepang, pihak yang getol meneliti coelacanth, itulah satu-satunya perjumpaan pada survei lapangan periode 27 Juni-12 Juli 2007. Dari 92 kali pengoperasian ROV (total waktu penyelaman 54 jam 55 menit), hanya terjadi satu perjumpaan selama 32 menit tersebut.

Secara total, ROV yang dibawa tim Aquamarine Fukushima telah merekam delapan kali perjumpaan pada periode tahun 2006-2007. Tahun 2008, tak satu perjumpaan pun terjadi.

Menemukan keberadaan ikan coelacanth memang tidak mudah. Bahkan, bisa dibilang sulit dan berongkos mahal.

Informasi ilmiah menyebutkan, habitat ikan coelacanth berada pada kedalaman lebih dari 180 meter dengan suhu air laut maksimal 18 derajat celsius. Pada perjumpaan 27 Juni 2007, ROV merekam coelacanth sedang berdiam di mulut goa batuan lava bawah laut.

Pergerakan sekaligus sorot lampu ROV tidak mengejutkan coelacanth. Puluhan menit berdiam seperti menggantung di mulut goa, coelacanth kemudian berenang perlahan dan menghilang di antara celah-celah goa.

Fosil hidup ”bertangan”

Para ahli menyebut ikan coelacanth sebagai ikan purba. Alasannya, ikan itu diyakini sudah ada di bumi sejak era Devonia sekitar 380 juta tahun silam. Hingga kini, bentuknya tidak berubah alias tidak berevolusi!

”Coelacanth juga disebut ikan fosil hidup,” kata peneliti ikan Pusat Penelitian Biologi LIPI, Agus H Tjakrawidjaja. Bersama satu peneliti Perancis dan beberapa peneliti Indonesia lainnya, Agus mengidentifikasi ikan coelacanth pertama di Indonesia ditemukan tahun 1998 di Manado, Sulut.

Hasilnya, ikan tersebut merupakan jenis baru yang kemudian disebut Latimeria menadoensis dan dipublikasikan di jurnal ilmiah Perancis, Comtes Rendus de L’Academie des Sience (24 Mei 1999). Identifikasi taksonomi itu mengejutkan ahli zoologi sedunia karena sejak tahun 1940 dunia hanya mengenal satu spesies coelacanth (Latimeria chalumnae) yang ditemukan di barat Madagaskar (1938), sekitar 10.000 kilometer dari Manado.

Ada kisah menarik di balik penerbitan spesies baru dari Manado itu. Agus mengisahkan, kelompok peneliti di Indonesia bersaing dengan peneliti dari Amerika Serikat, yang disebut-sebut menghalangi publikasinya di jurnal bergengsi, Nature. ”Toh, akhirnya bisa juga.”

Secara fisik, sekilas fosil hidup tampak seperti ikan kerapu macan. Loreng-loreng gelap bergigi tajam.

Keunikan paling nyata adalah keberadaan sepasang sirip dada, sirip perut, satu sirip anal (bagian belakang bawah), dan satu sirip punggung yang tidak menyatu dengan tubuh, tetapi menjulur seperti tungkai layaknya tangan manusia.

Untuk tetap pada posisinya, coelacanth menggerakkan sirip perut dan sirip dadanya seperti dayung. Gerakan maju datang dari sirip anal dan sirip punggung belakang.

Ada dugaan, coelacanth dapat bergerak mundur, tetapi belum ada publikasi mengenai kebenarannya. Yang pasti, seperti dikatakan Agus, rahang atas coelacanth dapat bergerak membuka seperti rahang bawah.

Peneliti ikan LIPI lainnya, Haryono, mengaku belum pernah melihat ikan dengan kemampuan membuka rahang bagian atas seperti coelacanth. Dengan kemampuan itu, coelacanth, ikan karnivora, dimungkinkan memangsa ikan yang lebih besar.

Agus menambahkan, coelacanth menetaskan telurnya di dalam perut, bukan di luar tubuhnya. ”Namun, ia tetap bukan mamalia air,” katanya.

Di dunia, habitat coelacanth diketahui di pantai Afrika, yakni Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar, dan Afrika Selatan, serta Indonesia. Di Indonesia, sebaran coelacanth mulai dari Buol, Tolitoli, Sulawesi Tengah, hingga Manado, Sulawesi Utara, sekitar 400 kilometer.

Penelitian Aquamarine Fukushima di kedalaman laut di kawasan itu (2006-2007) merekam tujuh coelacanth. Seluruhnya di kedalaman lebih dari 120 meter dengan suhu antara 12 C dan 17 C.

”Kami menduga, coelacanth juga ada di perairan Biak,” kata Augy. Pertimbangannya, kondisi bawah lautnya memiliki kemiripan dengan Sulut; berpalung dengan goa-goa batuan lava.

Kunci evolusi

Para ahli sepakat, berbagai keunikan coelacanth, yang belum seluruhnya terungkap, merupakan kunci penting mengungkap tabir evolusi makhluk bawah air. Alasan itu pulalah yang membuat pihak Jepang berupaya keras mengetahui seluk-beluk ikan fosil hidup itu.

Selain di Indonesia, Aquamarine Fukushima juga memiliki proyek survei lapangan di Afrika Selatan dan Tanzania. Tujuan survei itu adalah memfilmkan coelacanth di habitat aslinya.

Proyek jangka panjang yang fokus pada coelacanth itu disebut proyek ”Greeneye”. Selain survei lapangan, aktivitas proyek diikuti lokakarya dan simposium internasional serta ekshibisi khusus, termasuk mendatangkan awetan coelacanth ke Jepang selama sekitar tiga bulan.

Hingga tahun 2008, Jepang masih berupaya memiliki awetan basah coelacanth yang kini disimpan di Museum Biologi LIPI. Namun, masih ada penolakan dari peneliti.

Menyadari potensi besar coelacanth, yang mewakili kekayaan sumber daya hayati laut Tanah Air, Indonesia menjadikan ikan fosil hidup sebagai maskot Konferensi Kelautan Sedunia dan Pertemuan Segitiga Terumbu Karang (WOC-CTI Summit) pada 11-15 Mei 2009 di Manado.

Di Indonesia, setidaknya ada dua awetan basah coelacanth, yakni yang disimpan di Museum Biologi LIPI di Cibinong dan di Manado. Coelacanth menunjukkan bahwa kekayaan laut Indonesia sekaligus keterbatasan pengelolaan dan penelitian kelautan di Tanah Air.

READ MORE - Coelacanth, Ikan "Bertangan"

Dinosaurus Hidup Lebih Lama

Hadrosaurus

Berdasarkan teori paling kuat yang diterima saat ini, kepunahan dinosaurus terjadi secara massal akibat tumbukan benda angkasa raksasa ke Bumi. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar 65 juta tahun lalu.

Namun, kemungkinan tidak semua spesies punah saat itu. Sampai 500.000 tahun kemudian ternyata masih ada yang bertahan hidup. Misalnya, Hadrosaurus, jenis dinosaurus pemakan tumbuh-tumbuhan yang khas dengan moncong seperti paruh burung.

Reptil raksasa yang diperkirakan memiliki panjang tubuh dua belas meter itu hidup di wilayah yang sekarang merupakan antara Colorado dan New Mexico. Fosil tulang Hadrosaurus yang ditemukan 80 tahun lalu ternyata berumur 64,5 juta tahun dari hasil pengukuran akurat menggunakan teknik radioaktif dan magnetik.

Kesimpulan ini dilaporkan Jim Fassett dari Badan Survei Geologi AS (USGS) dalam jurnal Paleontologica Electronica edisi teranyar. Namun, masih ada yang menyangsikan temuan tersebut mengingat umur Hadrosaurus telah diperdebatkan selama delapan dekade.

"Ini kesimpulan yang kontroversial dan banyak paleontolog akan skeptis. Namun, kita semua tahu bahwa buaya bertahan hidup, jadi kemungkinan ada jenis dinosaurus tertentu yang bertahan hidup tidak mustahil," ujar David Polly, editor jurnal ilmiah yang memublikasikannya.

READ MORE - Dinosaurus Hidup Lebih Lama

Makan Tanah Demi Kesehatan


Simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda makan tanah dan duan-daunan yang berkhasiat untuk kesehatannya.

KAMPALA, MINGGU - Makan tanah terkesan kotor dan menjijikkan, namun bukan berarti tidak sehat. Bagi simpanse, yang diyakini sebagai primata paling dekat kekerabatannya dengan manusia, makan tanah merupakan salah satu cara hidup sehat.

Perilaku makan tanah sebagai kudapan setelah makan daun-daunan sudah diperlihatkan simpanse-simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda sejak bertahun-tahun. Setelah dipelajari, sampel tanah yang dikonsumsi ternyata meningkatkan daya tahan primata tersebut dari serangan malaria.

Penelitian yang dilakukan Sabrina Krief dan koleganya dari Museum National d'Histoire Naturelle, Paris, menemukan bahwa kandungan zat pada tanah yang dimakan simpanse mengaktifkan senyawa antimalaria pada daun-daunan yang dikonsumsinya.

Krief mengumpulkan sampel tanah dan daun pohon Trichilia rubescens yang sangat disukai simpanse. Jika daunnya saja yang dimakan, khasiatnya tidak ada. Namun, campuran daun dan tanah menghasilkan senyawa antimalaria.

"Itulah hubungannya yang mengungkap potensi manfaat baru," ujar Krief. Temuannya akan dipublikasikan dalam jurnal terbaru Naturwissenschaften.

Selain mempelajari simpanse, Krief juga membandingkannya dengan perilaku penduduk lokal. Tanah juga biasa digunakan dalam obat-obatan tradisional untuk mengobati penyakit diare.

Sampel tanah yang dimakan simpanse maupun obat diare tradisional ternyata memiliki kandungan zat yang mirip. Tanah mengandung mineral utama kaolin, zat utama yang dipakai untuk membuat obat diare.

"Penggunaan yang sama antara manusia dan hewan menarik ditilik dari sisi evolusi maupun perspektif konservasi," ujar Krief. Artinya, konservasi terhadap lahan di sekitar hutan tidak hanya berguna melindungi satwa langka tapi juga penting untuk kesehatan manusia.

READ MORE - Makan Tanah Demi Kesehatan

Simpanse Lebih Suka Makanan yang Dimasak


Simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda makan tanah dan duan-daunan yang berkhasiat untuk kesehatannya.

JAKARTA, SELASA — Andai dapat melakukannya sendiri, hewan ternyata juga lebih suka mengonsumsi makanan yang dimasak terlebih dahulu. Selain lebih mudah dikunyah, makanan yang dimasak lebih mudah dicerna organ pencernaan.

Nenek moyang manusia mungkin menyadari manfaat tersebut sehingga memilih memasak makanannya. Sayangnya, bukti-bukti yang mendukung pendapat tersebut sulit ditemukan.

Salah satunya mungkin dapat dilihat dari hasil penelitian terbaru terhadap kera besar untuk menilai makanan yang dimasak dan tidak. Kera besar dan manusia memiliki sifat genetika yang sebagian besar sama.

Penelitian yang dilakukan Victoria Wobber dan mahasiswa bimbingannya di Universitas Harvard menyediakan dua jenis makanan kepada beberapa spesies kera besar. Bonobo, gorila, dan orangutan ternyata tak terlalu memilih-milih makanan yang dimasak atau tidak. Kecuali untuk daging sapu, mereka lebih suka yang dipanggang.

Hal yang cukup berbeda terlihat pada simpanse, kera besar paling dekat kekerabatannya dengan manusia dan diketahui memiliki 98 persen DNA seperti manusia. Simpanse jelas lebih suka wortel, kentang manis, dan daging sapi yang dimasak daripada dalam bentuk mentah. Namun, mereka tak memilih-milih kentang putih dan apel yang dimasak karena tidak mengalami perubahan rasa yang berarti.

Sebelumnya hewan lain juga diketahui lebih menyukai makanan yang dimasak. Misalnya, kucing yang menyukai daging matang atau tikus yang lebih suka gandum yang dimasak. Meski jarang atau bahkan tak pernah menemukan makanan yang dimasak, hewan ternyata lebih menyukainya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mungkin mencoba memasak makanan begitu punya kesempatan untuk mencobanya di masa lalu dan mewariskannya hingga kini.

READ MORE - Simpanse Lebih Suka Makanan yang Dimasak

Dr Zavos Mulai Kloning Manusia


Panayiotis Zavos
LONDON, Diam-diam, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat, dr Panayiotis Zavos, mengkloning manusia. Kepada surat kabar Inggris, Independent, Zavos mengaku berhasil mengkloning 14 embrio manusia, 11 di antaranya sudah ditanam di rahim empat orang wanita.

Tidak diketahui di mana Zavos mekakukan kloning tersebut karena di Inggris, tempat ia tinggal, dan sejumlah negara, kloning manusia dilarang. Beberapa kemungkinan muncul tempat di mana Zavos melakukan kloning, antara lain di Timur Tengah atau di Amerika Serikat, tepatnya di Kentucky, lokasi kliniknya, atau Siprus tempat ia lahir.

Tapi empat pasien yang menjadi tempat penanaman sel hasil kloningnya disebutkan, tiga di antaranya wanita sudah menikah dan satu wanita lajang. Keempat wanita itu masing-masing dari Inggris, Amerika Serikat dan sebuah negara di Timur Tengah yang tidak disebutkan.

Namun, sejauh ini hasil kerja Dr Zavos belum membuahkan hasil karena keempat wanita itu belum kunjung hamil meski embrio sudah ditanam di rahim empat wanita tersebut.

“Saya memahami kenapa sejauh ini kami belum memperoleh kehamilan dari embrio yang sudah ditanam. Ini karena ada kondisi yang tidak ideal yang membuat itu tidak terjadi,” kata Dr Zavos. Ke depan, Zavos berencana berkolaborasi dengan Karl Illmensee yang sudah punya banyak pengalaman dengan proses kloning sejak 1980-an.

Untuk uji coba berikutnya, Zavos merekrut 10 pasangan muda untuk menjadi obyek uji coba berikutnya. “Banyak pasangan yang berminat untuk mencoba proses kloning ini di rahimnya,” ujarnya.

Zavos sudah menetapkan biaya untuk setiap orang yang ingin mengkloning. Biaya yang ditetapkan 45.000 dollar AS hingga 75.000 dollar AS atau sekitar Rp 492,3 juta sampai Rp 820,5 juta (kurs Rp 10.940).

Harian Independent menerbitkan berita itu setelah mendapatkan rekaman video hasil proses kloning yang dilakukan Zavos. Bayi hasil kerja Zavos diperkirakan akan lahir dalam beberapa waktu ke depan.

“Tidak ada keraguan dalam hal ini. Bayi hasil kloning akan muncul. Apabila kami meningkatkan usaha, kami akan mendapatkan bayi kloning dalam satu atau dua tahun. Tetapi kami belum tahu sampai sejauh mana peningkatan usaha yang kami dilakukan,” ujar Zavos seperti dilansir Independent.

Tindakan Dr Zavos tentu saja mendapat kecaman dari kalangan ilmuwan dan dianggap melawan etik kedokteran.

Manusia meninggal

Zavos melakukan hal yang berbeda dalam mengkloning manusia. Bila sebelumnya ilmuwan melakukannya dengan meletakkan embrio di tabung percobaan, Zavos langsung manaruhnya di rahim manusia.

Manusia yang dikloning Zavos adalah tiga orang yang sudah meninggal. Satu di antaranya adalah embrio seorang anak berusia 10 tahun bernama Cady. Anak tersebut meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Amerika Serikat. Sel darah Cady telah dibekukan dan dikirim ke Zavos. Orangtua Cady setuju dengan persyaratan yang ditentukan apabila kloning embrio anaknya bisa dilahirkan dengan selamat.
READ MORE - Dr Zavos Mulai Kloning Manusia

Berjemur Tak Sekadar Cari Kehangatan


MENJAGA tubuh tetap hangat bukan satu-satunya alasan bagi kadal dan makhluk lain berdarah dingin untuk berjemur. Sebab, menurut studi yang akan disiarkan di dalam Physiological and Biochemical Zoology terbitan Mei/Juni nanti, bunglon mengubah prilaku mandi sinar matahari mereka berdasarkan kebutuhan mereka akan vitamin-D.

"Ada pendapat lama bahwa pengaturan suhu adalah satu-satunya alasan kadal berjemur," kata Kristopher Karsten, ahli biologi di Texas Christian University yang memimpin studi tersebut.

"Hasil kami menunjukkan bahwa selain pengaturan suhu, pengaturan vitamin-D tampaknya juga memiliki dampak penting pada prilaku berjemur," ujarnya.

Bunglon, seperti juga manusia dan kebanyakan makhluk lain yang bertulang belakang, mendapat vitamin-D dengan dua cara. Mereka dapat menyerapnya dari makanan, atau menghasilkannya di kulit. Namun, guna memperoleh vitamin-D kulit harus terpajan (exposed) pada radiasi sinar ultraviolet.

Guna menguji-coba apakah bunglon mengubah pola mandi sinar matahari mereka berdasarkan asupan vitamin-D dari makanan, Karsten mengamati prilaku dua kelompok bunglon yang berbeda.

Satu kelompok memperoleh tingkat vitamin-D dosis tinggi dari dalam tubuh mereka, berkat makanan berupa jangkrik yang ditaburi bubuk vitamin-D. Kelompok tersebut secara rutin memakan jangkrik dan memperoleh vitamin-D dosis rendah.

Semua bunglon itu kemudian ditempatkan di lingkungan terbuka yang memiliki daerah terbuka bagi sinar matahari langsung, dan satu pohon guna memberikan sinar matahari yang tersaring dan tempat teduh. Demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua, seperti dikutip ANTARA.

Bunglon biasanya bergerak dari sinar matahari ke tempat teduh sepanjang siang hari. Namun, Karsten mendapati bahwa bunglon yang diberi makanan vitamin-D dosis rendah menggantinya dengan peningkatan pajanan mereka terhadap sinar ultraviolet. Sebaliknya bunglon dengan makanan vitamin-D dosis tinggi, membatasi pajanan mereka terhadap sinar ultraviolet.

"Kelihatannya bunglon ’panther’ memiliki kemampuan mengukur tingkat vitamin-D di dalam tubuh mereka dan mengubah prilaku berjemur mereka sesuai kebutuhan," kata Karsten. Dan mereka melakukannya dengan ketepatan yang luar biasa!

"Bunglon sama efektifnya dengan kemungkinan perhitungan matematis melalui metode kita dalam pengaturan pajanan optimal sinar ultraviolet bagi kadar vitamin-D mereka," katanya.

"Kami menduga mereka sangat handal dalam mengatur pajanan sinar ultraviolet mereka, kami sebelumnya tak menduga mereka sepiawai ini," ujarnya lagi. Namun, tidak jelas dengan menggunakan mekanisme apa mereka mampu mengetahui kadar vitamin-D di dalam tubuh mereka, tapi Karsten mengira mungkin mereka memiliki reseptor otak yang peka terhadap vitamin tersebut.

"Mengingat kemampuan bunglon ’panther’ untuk secara tepat, akurat dan efektif menyesuaikan prilaku berjemur mereka sebagai hasil langsung vitamin-D3, (satu reseptor vitamin D di otak) tampaknya sangat mungkin ada pada bunglon ’panther’," katanya.

READ MORE - Berjemur Tak Sekadar Cari Kehangatan

Sonar Bisa Membuat Tuli Mamalia Laut

PANCARAN berlebihan sonar di lautan mengganggu pendengaran mamalia laut, bahkan menyebabkan tuli sesaat yang mengancam keselamatan.

Banyaknya kasus paus dan lumba-lumba yang terdampar di pantai, yang banyak terjadi beberapa dekade lalu, mengarah pada aktivitas latihan kapal perang. Teorinya, pendengaran mamalia laut rusak akibat kuatnya pancaran sonar frekuensi menengah yang digunakan kapal selam maupun kapal laut.

Sonar yang menjadi navigasi pergerakan mamalia laut pada tingkat tertentu justru membuat disorientasi. Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Biology Letters yang terbit di Inggris, Rabu lalu, memperkuat dugaan itu meskipun masih dalam skala laboratorium.

Namun, penulisnya memberi penekanan, penelitian itu bukan untuk menyalahkan sonar yang dipancarkan kapal-kapal perang. Beberapa waktu lalu, penelitian berbeda menyebutkan, keriuhan aktivitas kapal di permukaan laut mengganggu produktivitas biota laut.

Para ahli biologi kelautan di bawah pimpinan Aran Mooney dari Universitas Hawaii menguji coba lumba-lumba yang lahir di penangkaran—lumba-lumba hidung botol dari Atlantik—dengan paparan sonar berfrekuensi menengah dari sebuah alat khusus. Eksperimen dilakukan di kandang lokasi laut terbuka di Institut Biologi Laut Hawaii yang dihadiri pelatih lumba-lumba.

Para peneliti memasang sejenis alat penyedot tanpa lengan di kepala lumba-lumba dengan menempelkan sensor pemantau gelombang otak. Hasilnya, ketika alat penimbul bunyi (ping) mencapai kekuatan 203 desibel dan terus diulang, data saraf menunjukkan mamalia uji tuli. Otak tak cukup merespons bunyi.

Menurut Mooney, tahapan uji itu tidak melukai lumba-lumba. Mamalia uji hanya tuli sesaat. Pendengarannya secara tipikal pulih dalam 20 menit dan hanya terjadi pada tingkatan tertentu, yang telah diatur. Pada tingkatan tertentu ketika sonar dinyalakan, sensor yang dipasang menunjukkan terjadinya peningkatan napas cepat secara signifikan. Ia menyatakan, pengulangan sonar berdampak pada perilaku dan psikis lumba-lumba. Namun, mereka belum tahu bila diekstrapolasikan di alam liar.

”Level suara yang kami gunakan setara dengan jika obyek berjarak 40 meter dari sumber sonar,” kata Mooney. Reaksi lumba-lumba dalam kondisi seperti selama dua menit tampak kebingungan dan kesulitan mencari jalan keluar.

Di laut lepas, bunyi yang mengganggu bisa jadi tak selemah ketika uji coba. Bunyi-bunyi itu kadang terjebak pada lapisan yang disebut termoklin, pada kedalaman lebih dari 100 meter atau sekitar itu.

Pada kondisi itu, diperkirakan akan menyulitkan mamalia laut mencari lokasi yang lebih tenang. Masih dibutuhkan penelitian lain dengan kondisi yang berbeda-beda.
READ MORE - Sonar Bisa Membuat Tuli Mamalia Laut

Berhubungan Seks Setelah Makan Daging


Simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda makan tanah dan duan-daunan yang berkhasiat untuk kesehatannya.

WASHINGTON, — Simpanse betina liar lebih sering kawin dengan simpanse jantan yang berbagi daging dengan mereka untuk waktu yang lama, demikian temuan satu studi yang dipimpin para peneliti Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Jerman, yang diterbitkan Rabu (8/4), di dalam jurnal AS PLoS ONE.

Cara simpanse betina memilih pasangan kawin mereka dan mengapa simpanse jantan berburu serta berbagi daging dengan mereka menjadi tanda tanya yang telah lama menggelayuti pikiran para ilmuwan.

Bukti dari berbagai kajian mengenai perhimpunan pemburu menunjukkan bahwa pria yang menjadi pemburu yang berhasil memiliki lebih banyak istri dan jumlah anak yang lebih banyak.

Berbagai kajian mengenai simpanse liar, kerabat terdekat manusia yang masih hidup telah memperlihatkan simpanse jantan yang menjadi pemburu berbagi daging dengan sang betina yang tak ikut dalam perburuan.

Ada satu hipotesis mengusulkan penjelasan bagi temuan itu ialah hipotesis daging-buat-seks, yaitu simpanse jantan dan betina bertukar daging dengan hubungan seks.

Namun, tak banyak bukti, baik pada manusia, maupun pada simpanse yang mendukungnya.

READ MORE - Berhubungan Seks Setelah Makan Daging

Terancam Punah, 80 Persen Plasma Nutfah Unggas Lokal


JAKARTA, - Dari 36 plasma nutfah unggas lokal Indonesia, 80 persen di antaranya sudah hampir punah. Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki plasma nutfah unggas lokal paling banyak di dunia.

Ketua Kelompok Peternak Unggas Lokal Indonesia Ade M Zulkarnain, Minggu (29/3) di Sukabumi, mengatakan, sudah ada beberapa jenis unggas lokal Indonesia yang punah. Dua jenis plasma nutfah unggas lokal yang teridentifikasi punah adalah ayam ciparage dan jantur asal Jawa Barat.

"Jika tak ada penanganan serius, kepunahan jenis lainnya tinggal menunggu waktu," katanya. Ayam sentul dengan plasma nutfah murni berasal dari Ciamis, Jabar, kini populasinya tak lebih dari 200 ekor.

Begitu pun ayam kedu putih asal Magelang dan sekitarnya populasinya tinggal 300 ekor. Sementara itu, ayam tukong asal Kalimantan bahkan sudah sulit ditemukan.

READ MORE - Terancam Punah, 80 Persen Plasma Nutfah Unggas Lokal

Ditemukan Spesies Mampu Hidup di Air Mendidih

Beberapa ilmuwan India telah menemukan mikro-organisme yang disebut "extremophiles", yang dapat bertahan hidup di dalam air mendidih dan radiasi sinar ultraviolet.

Menurut laporan tabloid setempat Mail Today, para ilmuwan tersebut menemukan mikro-organisme itu pada ketinggian 40 kilometer di atas permukaan Bumi.

Penelitian dipimpin ilmuwan dari Center of Cellular and Microbiology di kota Hyderabad, India Selatan, S Shivaji. Ia telah meneliti bakteri di Antartika, Samudera Kutub Utara, dan Gletser Himalaya. "Ketiga spesies baru yang ditemukan sekarang dapat dibedakan dari semua spesies yang sejauh ini dilaporkan di dalam catatan ilmiah," kata surat kabar tersebut, yang mengutip keterangan Shivaji.

Bakteri itu dapat bertahan pada radiasi ultraviolet dosis lebih tinggi, tumbuh di dalam kondisi gizi rendah, dan memiliki susunan asam lemak yang memungkinkan mereka bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Spesies baru itu kini diisolasi. Semua spesies tersebut dikumpulkan dari ketinggian antara 20 kilometer dan 41,4 kilometer pada April 2005, tetapi temuannya baru terjadi belum lama ini. Para ilmuwan mengatakan sulit untuk meramalkan bagaimana bakteri dapat bertahan hidup di lingkungan yang rendah oksigen semacam itu.

Penelitian extremophiles menimbulkan pertanyaan mengenai kelangsungan hidup bentuk kehidupan. Itu dapat mengarah pada pengenalan lebih lanjut mengenai rangkaian baru dan menemukan beragam penerapan produk yang berlandaskan bioteknologi.
READ MORE - Ditemukan Spesies Mampu Hidup di Air Mendidih

Jangan Harap Bertemu Kodok Ungaran

Untuk lihat gambar:


Philautus bombayensis yang merupakan spesies endemik di India adalah jenis katak pohon yang satu genus dengan kodok Ungaran.

BOGOR, - Meski belum termasuk dalam daftar sebagai hewan yang telah punah, kodok ungaran (Philautus jacobsoni) hampir tidak dapat ditemukan lagi saat ini. Hal tersebut dikatakan Hellen Kurniati, peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Bahkan sampel spesimennya juga kita tidak punya," katanya di sela-sela training pengenalan amfibi di Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, Bogor, Rabu (26/11). Satu-satunya sampel diambil tahun 1930-an dan disimpan di Museum Leiden, Belanda.

Bagaimana warna asli tubuh kodok tersebut pun Hellen mengaku tidak pernah melihatnya karena warnanya pudar setelah diawetkan. Sejak lebih dari tujuh dekade belum pernah ada yang melaporkan pernah melihat atau menemukannya kembali.

Kodok Ungaran merupakan spesies endemik yang dulunya hanya tinggal di dataran tinggi kawasan hutan Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Ukuran tubuhnya termasuk kecil dan arboreal atau hidup di lubang-lubang pohon.

Menurut Hellen penyebab utama menghilangnya kodok Ungaran adalah perubahan habitat besar-besaran. Hutan alam yang asri sudah tak dapat ditemui di Gunung Ungaran dan kondisinya berbeda sekali dibandingkan puluhan tahun lalu.

Meski demikian untuk menyebutnya punah belum dapat dilakukan. Statusnya dalam daftar merah International Unionm for Conservatioj of Nature (IUCN) masih CR (critically endangered). Apalagi sampai saat ini belum pernah dilakukan survei secara menyeluruh untuk memastikan tak ada lagi spesies tersebut di sana.

Belum ada rencana dari LIPI untuk menggelar ekspedisi pencarian kodok Ungaran karena terbentur biaya dan tingkat urgensinya. Nah, apakah perburuan kodok Ungaran akan kembali kecolongan lagi oleh peneliti luar negeri?

READ MORE - Jangan Harap Bertemu Kodok Ungaran

Katak Langka dan Khas Sebaiknya Jadi Maskot Daerah

Untuk lihat gambar:

BANDUNG, JUMAT - Keanekaragaman dan keunikan katak di Indonesia mungkin sebaiknya diublikasikan lebih luas sebagai lambang daerah. Hal tersebut juga akan membantu menyelamatkan berbagai jenis katak dari kepunahan.

Demikian dikatakan Herpetolog (peneliti katak) dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar dalam workshop tentang katak di Kebon Binatang Bandung, Jumat (27/2).

Menurut Djoko, selain, memiliki peranan penting dalam rantai makanan, katak adalah indikator perubahan iklim dan cuaca. Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu di suatu tempat bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan atau perubahan iklim di sekitarnya.

"Berbagai macam cara bisa dilakukan untuk melindungi sekitar 400-500 spesies katak yang terdata di Indonesia. Paling depan tentu konservasi lingkungan tapi ada hal lain bisa menjadi alternatif, yaitu mempublikasikan keragaman dan keunikan spesies katak di Indonesia," katanya.

Menurut Djoko, sejatinya katak di Indonesia memiliki banyak keunikan. Di antaranya warna, ukuran, hingga struktur tubuh. Hal itu, diyakini Djoko bisa dipublikasikan sebagai maskot daerah atau taman nasional. Diharapkan setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidupnya bisa terjaga.

Djoko mengatakan, beberapa katak itu antara lain katak raksasa (Limnonectes blythii) asal Sumatera. Ukurannya merupakan yang terbesar kedua di dunia. Panjangnya bisa mencapai 25 sentimeter dan berat 1,5 kilogram.

Selain itu, ada katak darah dari Gunung Halimun, yaitu katak merah (Leptophryne cruentata). Katak ini satu-satunya di Indonesia yang berwarna merah darah.

Djoko juga menyebutkan satu-satunya katak di Indonesia yang tidak memiliki paru-paru yaitu katak kepala pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis). Usianya diperkirakan lebih dari 50 juta tahun dan di Indonesia hanya ada satu spesies. Di Indonesia, katak yang bernafas menggunakan kulitnya ini hanya ditemukan di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat.

Penelitian kurang

"Selain minimnya perhatian atau kesadaran mempublikasikan kekhasan katak, kurangnya tenaga ahli dan peneliti katak ikut memengaruhi tidak dikenalnya keragaman katak Indonesia," katanya. Menurut Djoko, Indonesia hanya memiliki sekitar 20 orang herpetolog. Akibatnya data mengenai jenis katak di Indonesia belum lengkap.

Sangat sedikit data mengenai keberadaan katak di Indonesia untuk dipublikasikan. Diperkirakan, saat ini masih banyak katak di Indonesia yang belum diberi nama atau diketahui keberadaannya.

Ia membandingkan dengan perkembangan penelitian katak di daratan Eropa yang jumlah spesiesnya hanya sekitar 50 jenis katak. Di setiap negara di Eropa, bisa ditemukan minimal satu ahli katak. Mereka memiliki data lengkap mengenai perkembangan katak di negaranya.

Minimnya data juga dikatakan Kepala Urusan Reptil Kebon Binatang Bandung, Ada Suryana. Menurut Ada, hingga kini data mengenai katak sangat minim, baik itu yang dilindungi atau tidak. Baik itu, informasi mengenai spesies, ekosistem, reproduksi, atau jenis makan. Akibatnya, pihaknya sulit untuk mendapatkan jenis katak yang dilindungi untuk disimpan sebagai salah satu koleksi Kebon Binatang Bandung.

"Hingga kini belum ada jenis katak yang dilindungi disimpan di Kebon Binatang Bandung," katanya.


READ MORE - Katak Langka dan Khas Sebaiknya Jadi Maskot Daerah

Katak, dan Kerusakan Lingkungan

BAGI sebagian orang, katak dan kodok adalah hewan yang menjijikkan karena kulitnya berlendir, bahkan ada yang beracun. Namun, bagi Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog atau peneliti reptil dan amfibi dari Institut Teknologi Bandung, katak adalah salah satu amfibi yang seksi dan khas.

Katak dengan warna kulitnya, cara hidup, hingga bentuknya yang beraneka ragam menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, karena bisa hidup di air dan di darat, katak dapat digunakan untuk mengukur adanya kerusakan lingkungan hidup. Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan.

"Keanekaragaman katak di Indonesia adalah surga bagi peneliti. Kini baru 400-500 spesies katak yang ditemukan di Indonesia. Kemungkinan besar masih banyak katak yang menunggu ditemukan," katanya.

Djoko membuktikannya sendiri dengan menjelajah ke berbagai tempat di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua. Hasil penelitiannya antara lain 16 jenis baru katak, diakui sebagai kontribusi yang penting.

Oleh karena itu, para peneliti asing mengabadikan penemuan ini untuk menghormati dia, antara lain dengan menamakan temuannya sebagai Collocasiomya iskandari (2000), Luperosaurus iskandari (2003), Fejervarya iskandari (2004), dan Draco iskandari (2007).

Ia juga melakukan penelitian ilmiah pada beberapa katak khas Indonesia lainnya, seperti katak tanpa paru-paru, yakni katak kepala pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis).

Sempat mendeskripsikan jenis itu pada 1978, Djoko berhasil menemukan kembali tahun 2007 di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat. Katak ini merupakan satu-satunya katak di dunia yang bernapas tanpa paru-paru, tetapi menggunakan kulit. Nenek moyangnya diyakini sudah ada sejak 50 juta tahun lalu.

International Union for Conservation of Nature lalu memberikan perlindungan kepada katak kepala pipih sebagai satwa yang terancam punah. Diperkirakan jumlahnya terbatas dan merupakan endemik di Kalimantan.

Djoko juga menemukan katak unik lain di Sulawesi tahun 1989. Uniknya, katak yang hingga kini belum diberi nama itu tak bertelur, tetapi merupakan katak pertama di dunia yang melahirkan kecebong.

Minim informasi

Keahlian menemukan dan mendeskripsikan berbagai macam katak spesies baru itu tak didapat Djoko dengan mudah. Minimnya data membuat dia harus mengawali studi katak dari penduduk kampung hingga berkorespondensi dengan ahli katak terkemuka dunia.

Satu per satu peneliti katak dunia dia kirimi surat berisi pertanyaan dan penelitian tentang katak di Asia atau Indonesia. Peneliti hewan terkenal dunia yang dihubunginya antara lain RF Inger.

"Jawabannya memakan waktu yang lama. Saat itu teknologi belum maju karena kami hanya memakai jasa pos. Namun, hati saya sangat senang karena data yang diberikan banyak dan lengkap," kata pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB ini.

Ia juga banyak belajar dari penduduk lokal. Salah satu pengalamannya ketika mencari katak di hutan Sulawesi tahun 1990-an. Sebagai orang baru di dunia katak, ia bersemangat masuk hutan hendak mencari katak pada siang hari. Namun, hal itu justru mengundang tanya penduduk setempat.

Seorang penduduk mengatakan, mencari katak pada siang hari itu tindakan sia-sia. Waktu ideal mencari katak ternyata malam hari. Dia sadar, pengalamannya di dunia katak belum banyak.

Hal serupa dia alami ketika mencari katak kepala pipih di Kalimantan pada 2007. Ia buta tentang tempat tinggal dan cara hidup katak kepala pipih. Satu-satunya informasi adalah katak yang pernah dibawa temannya, seorang ahli ikan, dari Kalimantan tahun 1978. Jadilah, hingga hari ke-10 ia belum menemukan si kepala pipih. Padahal, biasanya katak dengan informasi lengkap bisa ditemukan dengan segera.

Baru pada hari ke-12, timnya menemukan dua ekor katak kepala pipih yang hidup di bawah batu sekitar sungai. Namun, saat hendak diteliti dan dimasukkan ke dalam ember, katak itu mati.

"Sampai mati dua ekor katak. Setelah dibedah, baru diketahui dia tak punya paru-paru. Katak itu ternyata bernapas menggunakan kulit," katanya.

Meski telah menemukan berbagai katak spesies baru, Djoko belum merasa puas. Ia yakin, masih banyak jenis katak lain yang hidup dan belum pernah ditemukan di Indonesia.

Minimnya informasi itu adalah ironi. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah spesies katak yang banyak, tetapi tak lebih dari 20 peneliti katak di negeri ini.

"Berbeda dengan negara-negara di Eropa. Di tiap negara minimal ada seorang herpetolog. Data yang dimiliki sangat lengkap, dari nenek moyang katak hingga yang kini masih hidup. Padahal, di dataran Eropa katak hanya sekitar 40 jenis," ujarnya.

Warisan dunia

Belajar dari pengalaman itu, Djoko mulai rajin menulis buku dan publikasi di berbagai tempat. Hingga kini 68 publikasi internasional dan sembilan buku telah diterbitkan. Selain itu, 45 publikasi nasional dan 10 buku bisa dinikmati masyarakat.

Bahkan, lebih dari 100 presentasi internasional dan nasional telah dia lakukan. Tempatnya pun bermacam-macam, dari ruang seminar internasional di Singapura hingga kebun binatang di Bandung.

Akan tetapi, menurut Djoko, usaha itu harus ditingkatkan, terutama dengan menambah jumlah peneliti katak. Meski tak berpotensi menambah pundi harta peneliti, penelitian katak adalah usaha pertanggungjawaban pada keanekaragaman hayati Indonesia. Bahkan, mungkin suatu hari nanti ada kegunaan lain dari hasil penelitian berbagai katak tersebut.

Katak, diyakini Djoko, bisa dipublikasikan, baik sebagai lambang daerah atau taman nasional. Dia berharap, setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidup katak bisa terjaga.

Selain itu, masih banyak kemungkinan yang bisa digali. Contohnya, berbagai pertanyaan pada penelitian katak berkepala pipih.

"Dunia ini masih memiliki banyak ilmu yang belum digali. Tugas semua pihak adalah hadir di sana, mencari ide baru, lantas mengabarkannya kepada semua orang. Itulah inti dari hadirnya ilmu dalam masyarakat," katanya.

READ MORE - Katak, dan Kerusakan Lingkungan

Katak, Laba-laba, dan Tokek Spesies Baru Ditemukan

Untuk lihat gambar:


Katak hijau berbadan besar dari genus Nyctimystes ini adalah salah satu di antara lebih dari 50 spesies baru yang ditemukan di hutan Papua Nugini.


WASHINGTON, — Laba-laba yang melompat, tokek lurik, dan katak pengerik termasuk di antara lebih dari 50 spesies baru yang ditemukan di Papua Nugini, kata kelompok pencinta lingkungan hidup Consevation International, Selasa.

Semua hewan itu ditemukan selama satu ekspedisi pada Juli dan Agustus 2008 di hutan lebat di dataran tinggi Papua Nugini, kata kelompok tersebut dalam satu pernyataan.

Sebanyak 50 spesies laba-laba, dua tanaman, tiga katak, dan satu tokek yang ditemukan dalam ekspedisi itu diduga sebagai temuan baru bagi ilmu pengetahuan.

Tiga spesies katak meliputi katak kecil yang berwarna coklat dengan suara kerik yang tajam, tiga katak hijau muda dengan mata besar, dan katak yang tinggal di air terjun dengan suara keras.
READ MORE - Katak, Laba-laba, dan Tokek Spesies Baru Ditemukan

Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan

Untuk lihat gambar:


kodok merah yang hampir punah

Kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.

Tahun kodok

Tahun 2008 disepakati sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Penetapan ini berawal dari kekhawatiran banyak ahli kodok di dunia terhadap rentannya eksistensi kodok akibat isu pemanasan global dan besarnya ancaman dari dampak lingkungan. Tujuan penetapan Tahun Kodok untuk mengangkat pamor kodok di dunia.

Bahaya yang dihadapi

Masalah utama yang mengancam populasi dan keanekaragaman jenis kodok di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai (berupa limbah rumah tangga dan logam berat), dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Pemanfaatan yang berlebihan serta serangan penyakit jamur dan virus juga menjadi menjadi ancaman yang dihadapi kodok.

Jenis kodok endemik Jawa berstatus Kritis (CR):

- Kodok Merah (Leptophryne cruentata)
Hanya terdapat di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat.
- Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni)
Hanya terdapat di hutan tropis Jawa Tengah.

Jenis endemik yang berstatus Rentan (VU):

- Kongkang Jeram (Huia masonii)
- Kodok Pohon Mutiara (Nyctixalus margaritifer)
- Kodok Pohon Kaki Putik (Philautus pallidipes)
- Kodok Pohon Jawa (Rhacophorus javanus)

Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa. Kerusakan di Pulau Jawa berdampak nyata pada status jenis-jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Sekilas kodok

Kodok jantan datang ke kolam dan menggunakan teknik unik mereka untuk menarik perhatian kodok betina. Dengan teknik "amplexus", kodok jantan akan memeluk pinggang kodok betina.

Klasifikasi katak dan kodok:
• Kerajaan : Animalia
• Filum : Chordata
• Kelas : Amfibia
• Bangsa : Anura

Polusi dan Reproduksi

Jenis-jenis yang tidak tahan terhadap polusi umumnya akan mati pada tingkat metamorfosis dari telur menjadi berudu, sedangkan jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami pertumbuhan tidak normal atau cacat pada tangan atau kaki yang sangat berperan pada proses kawin kodok. Bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, hal itu berpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok itu. Akibatnya, jenis yang tahan terhadap polusi air berangsur-angsur juga punah.

Status IUCN

Punah (Extinct)-EX 34 jenis
Punah di alam (Extinct in the Wild)-EW 1 jenis
Kritis (Critically Endangered)-CR 455 jenis
Genting (Endangered)-EN 768 jenis
Rentan (Vulnerable)-VU 670 jenis
Terancam (Near Threaten)-NT 369 jenis
Perlu Perhatian (least Concern)-LC 2.236 jenis
Data Tidak Cukup (Data Deficient)-DD 1.382 jenis


Kodok dalam Angka

- Dari 6.000 jenis kodok di dunia, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh International Union for Conservation and Natural (IUCN) Resources.
- 1.893 berada dalam status terancam dan menuju kepunahan.
- Kodok di Indonesia diketahui 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar.
- Lebih dari 100 jenis lainnya belum dideskripsikan.

Hidup katak dalam tiap tahap pertumbuhannya rentan akan bahaya. Misalnya katak pohon dalam semalam mampu bertelur sampai 500 butir. Dari 20 telur hanya 1 yang akan menjadi katak, dari 10 katak hanya 1 yang hidup lebih dari setahun.

Kodok berdarah dingin, suhu tubuh berubah sesuai suhu udara. Kulit katak mampu beradaptasi untuk menghindari kekeringan. Katak dapat menyerap air dan embun melalui kulitnya.

Amfibi adalah karnivora, sedangkan kebanyakan berudu adalah herbivora.

Predator kodok dan katak, antara lain, ular, burung, dan rakun.

Mekanisme pertahanan beberapa jenis katak dan kodok

Limnonectes mempunyai geligi seperti taring sebagai alat pertahanan diri. Kulit beracun pada jenis Bufonidae dan Ranidae. Biasanya jenis ini baunya menyengat, berwarna terang. Kulit yang sangat lengket pada jenis suku Microhylidae. Beberapa katak menggembungkan tubuhnya.

Perbedaan katak dan kodok

Katak memiliki:
• Kulit yang halus dan berlendir
• Kaki yang panjang dan kuat
• Kaki belakang yang berselaput
• Dua mata yang menonjol
• Bertelur dalam klaster

Kodok memiliki
• Kulit yang kering dan berbintil
• Badan yang buntek dengan kaki belakang pendek
• Kelenjar paratoid di belakang mata
• Bertelur dalam rantai yang panjang

Pemanfaatan kodok

Fenomena pemanfaatan kodok yang berlangsung sampai saat ini adalah pemanfaatan yang tidak berkelanjutan tanpa memedulikan bentuk pelestarian. Bentuk pemanfaatan yang berpotensi menurunkan populasi kodok adalah konsumsi daging paha kodok. Indonesia adalah negara pengekspor daging paha kodok. Negara tujuan ekspor kodok, antara lain, Belanda, Perancis, Belgia, Portugal, Hongkong, dan Korea.

Jenis-jenis yang diekspor adalah kodok penghuni sawah (Fejervarya spp) dan kodok penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (kelompok macrodon). Keunggulan kodok jenis ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan persawahan dan irigasinya. Kemampuan ini membuat ancaman terhadap status populasi di alam akibat pemanfaatan oleh manusia berkurang, didukung pula dengan bertambahnya habitat persawahan di Sumatera.

Beberapa jenis kodok berukuran besar dimanfaatkan kulitnya sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan. Kelompok kodok tersebut adalah dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp), sedangkan dagingnya tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun.

READ MORE - Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan