Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Semakin Dekat, Guru Gencar Padatkan Materi


Ujian Nasional (UN) yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2010 mengakibatkan sekolah memadatkan materi pembelajaran siswanya. Dengan demikian, para guru juga membahas materi semester dua di semester satu.

Sekolah kami melakukan try out sebanyak tujuh kali. Terakhir akan dilaksanakan pada awal Maret nanti.
-- Husni

Hal ini terjadi di sekolah negeri maupun swasta. Sekolah-sekolah gencar melakukan pendalaman materi dan try out untuk mempersiapkan siswanya menempuh UN. Hal ini disampaikan salah satu guru SMA Negeri 6, Jakarta Selatan, Husni, saat ditemui Kompas.com di sekolah, Kamis (25/2/2010).

"Kami memakai metode bedah Standar Kompetisi Kelulusan (SKL) untuk pendalaman materi. Awalnya guru membedah bahan ajar, kemudian menyusun kisi-kisi dan menyampaikan pada siswa," ungkap Husni.

Dia menambahkan, try out yang dilaksanakan pun tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

"Sekolah kami melakukan try out sebanyak tujuh kali. Terakhir akan dilaksanakan pada awal Maret nanti," tutur ibu yang sudah mengabdi selama 23 tahun sebagai pengajar di SMA tersebut.

Lebih lanjut Husni mengatakan, dimajukannya UN terkait dengan tahap UN yang tidak hanya berlangsung sekali, yaitu UN utama dan UN ulangan. Perubahan jadwal tersebut membuat pihak sekolah dan siswa berjuang lebih keras.

"Sejak awal semester dua siswa hanya melakukan try out dan pembahasannya saat kegiatan belajar mengajar, karena saat semester satu materi sudah diselesaikan," ujar guru fisika yang berharap tahun ini siswa di sekolahnya dapat lulus 100 persen.

READ MORE - Semakin Dekat, Guru Gencar Padatkan Materi

Isu Lingkungan Dianggap Tak "Seksi" oleh pemerintah

Tribun Batam/Iman Suryanto
Pemandangan dari udara menunjukkan kerusakan lingkungan yang disebabkan adanya pertambangan bauksit di kawasan Bintan, Kepulauan Riau, Rabu . Dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan di kawasan ini sudah sampai taraf mengkhawatirkan.

JAKARTA, Pemerintah, partai politik, ataupun anggota parlemen dinilai belum menyoroti isu-isu lingkungan hidup. Isu tersebut dianggap kurang menarik dan tidak "seksi".

Menurut Bima Aria, seorang pengamat politik, isu-isu mengenai lingkungan hidup sebenarnya dapat dibuat menarik sehingga menjadi perhatian dari berbagai pihak.

"Semua itu tergantung packaging dan siapa yang menyampaikan. Jika kemasan dan penyampai sudah menarik, isu tentang lingkungan hidup akan menjadi perhatian," ujar Bima seusai diskusi panel bertajuk "Tantangan Kepemimpinan Gerakan Politik Hijau Pasca Pemilu 2009" di Jakarta, Jumat (24/4).

Ia menerangkan, musim kampanye pilpres mendatang adalah waktu tepat untuk mengembuskan isu-isu lingkungan hidup. Pendekatan yang dilakukan bisa melalui KPU atau stasiun TV.

Selain itu, lanjut Bima, harus mencoba untuk menembus ring satu tim sukses capres dan cawapres. Tim sukses tersebut didorong untuk menambahkan porsi isu lingkungan hidup dalam kampanye terbuka. Cara lain adalah dengan menggunakan para artis yang menjadi anggota parlemen.

"Selebritis itu perlu amunisi untuk berbicara di depan publik. Mereka dapat diberi pengetahuan mengenai isu-isu lingkungan hidup dan diarahkan menjadi opinion leader," ungkap Bima. Menurut Bima, figur publik yang mempunyai kapasitas untuk dijadikan opinion leader adalah Rieke Dyah Pitaloka dan Wanda Hamidah. "Buat isu ini semenarik mungkin, jangan sampai bersifat reaktif sesaat, perlu juga monitor setelah itu," tutup Bima.

READ MORE - Isu Lingkungan Dianggap Tak "Seksi" oleh pemerintah

Jangan Harap Bertemu Kodok Ungaran

Untuk lihat gambar:


Philautus bombayensis yang merupakan spesies endemik di India adalah jenis katak pohon yang satu genus dengan kodok Ungaran.

BOGOR, - Meski belum termasuk dalam daftar sebagai hewan yang telah punah, kodok ungaran (Philautus jacobsoni) hampir tidak dapat ditemukan lagi saat ini. Hal tersebut dikatakan Hellen Kurniati, peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Bahkan sampel spesimennya juga kita tidak punya," katanya di sela-sela training pengenalan amfibi di Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, Bogor, Rabu (26/11). Satu-satunya sampel diambil tahun 1930-an dan disimpan di Museum Leiden, Belanda.

Bagaimana warna asli tubuh kodok tersebut pun Hellen mengaku tidak pernah melihatnya karena warnanya pudar setelah diawetkan. Sejak lebih dari tujuh dekade belum pernah ada yang melaporkan pernah melihat atau menemukannya kembali.

Kodok Ungaran merupakan spesies endemik yang dulunya hanya tinggal di dataran tinggi kawasan hutan Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Ukuran tubuhnya termasuk kecil dan arboreal atau hidup di lubang-lubang pohon.

Menurut Hellen penyebab utama menghilangnya kodok Ungaran adalah perubahan habitat besar-besaran. Hutan alam yang asri sudah tak dapat ditemui di Gunung Ungaran dan kondisinya berbeda sekali dibandingkan puluhan tahun lalu.

Meski demikian untuk menyebutnya punah belum dapat dilakukan. Statusnya dalam daftar merah International Unionm for Conservatioj of Nature (IUCN) masih CR (critically endangered). Apalagi sampai saat ini belum pernah dilakukan survei secara menyeluruh untuk memastikan tak ada lagi spesies tersebut di sana.

Belum ada rencana dari LIPI untuk menggelar ekspedisi pencarian kodok Ungaran karena terbentur biaya dan tingkat urgensinya. Nah, apakah perburuan kodok Ungaran akan kembali kecolongan lagi oleh peneliti luar negeri?

READ MORE - Jangan Harap Bertemu Kodok Ungaran

Katak Langka dan Khas Sebaiknya Jadi Maskot Daerah

Untuk lihat gambar:

BANDUNG, JUMAT - Keanekaragaman dan keunikan katak di Indonesia mungkin sebaiknya diublikasikan lebih luas sebagai lambang daerah. Hal tersebut juga akan membantu menyelamatkan berbagai jenis katak dari kepunahan.

Demikian dikatakan Herpetolog (peneliti katak) dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar dalam workshop tentang katak di Kebon Binatang Bandung, Jumat (27/2).

Menurut Djoko, selain, memiliki peranan penting dalam rantai makanan, katak adalah indikator perubahan iklim dan cuaca. Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu di suatu tempat bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan atau perubahan iklim di sekitarnya.

"Berbagai macam cara bisa dilakukan untuk melindungi sekitar 400-500 spesies katak yang terdata di Indonesia. Paling depan tentu konservasi lingkungan tapi ada hal lain bisa menjadi alternatif, yaitu mempublikasikan keragaman dan keunikan spesies katak di Indonesia," katanya.

Menurut Djoko, sejatinya katak di Indonesia memiliki banyak keunikan. Di antaranya warna, ukuran, hingga struktur tubuh. Hal itu, diyakini Djoko bisa dipublikasikan sebagai maskot daerah atau taman nasional. Diharapkan setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidupnya bisa terjaga.

Djoko mengatakan, beberapa katak itu antara lain katak raksasa (Limnonectes blythii) asal Sumatera. Ukurannya merupakan yang terbesar kedua di dunia. Panjangnya bisa mencapai 25 sentimeter dan berat 1,5 kilogram.

Selain itu, ada katak darah dari Gunung Halimun, yaitu katak merah (Leptophryne cruentata). Katak ini satu-satunya di Indonesia yang berwarna merah darah.

Djoko juga menyebutkan satu-satunya katak di Indonesia yang tidak memiliki paru-paru yaitu katak kepala pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis). Usianya diperkirakan lebih dari 50 juta tahun dan di Indonesia hanya ada satu spesies. Di Indonesia, katak yang bernafas menggunakan kulitnya ini hanya ditemukan di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat.

Penelitian kurang

"Selain minimnya perhatian atau kesadaran mempublikasikan kekhasan katak, kurangnya tenaga ahli dan peneliti katak ikut memengaruhi tidak dikenalnya keragaman katak Indonesia," katanya. Menurut Djoko, Indonesia hanya memiliki sekitar 20 orang herpetolog. Akibatnya data mengenai jenis katak di Indonesia belum lengkap.

Sangat sedikit data mengenai keberadaan katak di Indonesia untuk dipublikasikan. Diperkirakan, saat ini masih banyak katak di Indonesia yang belum diberi nama atau diketahui keberadaannya.

Ia membandingkan dengan perkembangan penelitian katak di daratan Eropa yang jumlah spesiesnya hanya sekitar 50 jenis katak. Di setiap negara di Eropa, bisa ditemukan minimal satu ahli katak. Mereka memiliki data lengkap mengenai perkembangan katak di negaranya.

Minimnya data juga dikatakan Kepala Urusan Reptil Kebon Binatang Bandung, Ada Suryana. Menurut Ada, hingga kini data mengenai katak sangat minim, baik itu yang dilindungi atau tidak. Baik itu, informasi mengenai spesies, ekosistem, reproduksi, atau jenis makan. Akibatnya, pihaknya sulit untuk mendapatkan jenis katak yang dilindungi untuk disimpan sebagai salah satu koleksi Kebon Binatang Bandung.

"Hingga kini belum ada jenis katak yang dilindungi disimpan di Kebon Binatang Bandung," katanya.


READ MORE - Katak Langka dan Khas Sebaiknya Jadi Maskot Daerah

Katak, Laba-laba, dan Tokek Spesies Baru Ditemukan

Untuk lihat gambar:


Katak hijau berbadan besar dari genus Nyctimystes ini adalah salah satu di antara lebih dari 50 spesies baru yang ditemukan di hutan Papua Nugini.


WASHINGTON, — Laba-laba yang melompat, tokek lurik, dan katak pengerik termasuk di antara lebih dari 50 spesies baru yang ditemukan di Papua Nugini, kata kelompok pencinta lingkungan hidup Consevation International, Selasa.

Semua hewan itu ditemukan selama satu ekspedisi pada Juli dan Agustus 2008 di hutan lebat di dataran tinggi Papua Nugini, kata kelompok tersebut dalam satu pernyataan.

Sebanyak 50 spesies laba-laba, dua tanaman, tiga katak, dan satu tokek yang ditemukan dalam ekspedisi itu diduga sebagai temuan baru bagi ilmu pengetahuan.

Tiga spesies katak meliputi katak kecil yang berwarna coklat dengan suara kerik yang tajam, tiga katak hijau muda dengan mata besar, dan katak yang tinggal di air terjun dengan suara keras.
READ MORE - Katak, Laba-laba, dan Tokek Spesies Baru Ditemukan

Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan

Untuk lihat gambar:


kodok merah yang hampir punah

Kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.

Tahun kodok

Tahun 2008 disepakati sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Penetapan ini berawal dari kekhawatiran banyak ahli kodok di dunia terhadap rentannya eksistensi kodok akibat isu pemanasan global dan besarnya ancaman dari dampak lingkungan. Tujuan penetapan Tahun Kodok untuk mengangkat pamor kodok di dunia.

Bahaya yang dihadapi

Masalah utama yang mengancam populasi dan keanekaragaman jenis kodok di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai (berupa limbah rumah tangga dan logam berat), dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Pemanfaatan yang berlebihan serta serangan penyakit jamur dan virus juga menjadi menjadi ancaman yang dihadapi kodok.

Jenis kodok endemik Jawa berstatus Kritis (CR):

- Kodok Merah (Leptophryne cruentata)
Hanya terdapat di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat.
- Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni)
Hanya terdapat di hutan tropis Jawa Tengah.

Jenis endemik yang berstatus Rentan (VU):

- Kongkang Jeram (Huia masonii)
- Kodok Pohon Mutiara (Nyctixalus margaritifer)
- Kodok Pohon Kaki Putik (Philautus pallidipes)
- Kodok Pohon Jawa (Rhacophorus javanus)

Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa. Kerusakan di Pulau Jawa berdampak nyata pada status jenis-jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Sekilas kodok

Kodok jantan datang ke kolam dan menggunakan teknik unik mereka untuk menarik perhatian kodok betina. Dengan teknik "amplexus", kodok jantan akan memeluk pinggang kodok betina.

Klasifikasi katak dan kodok:
• Kerajaan : Animalia
• Filum : Chordata
• Kelas : Amfibia
• Bangsa : Anura

Polusi dan Reproduksi

Jenis-jenis yang tidak tahan terhadap polusi umumnya akan mati pada tingkat metamorfosis dari telur menjadi berudu, sedangkan jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami pertumbuhan tidak normal atau cacat pada tangan atau kaki yang sangat berperan pada proses kawin kodok. Bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, hal itu berpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok itu. Akibatnya, jenis yang tahan terhadap polusi air berangsur-angsur juga punah.

Status IUCN

Punah (Extinct)-EX 34 jenis
Punah di alam (Extinct in the Wild)-EW 1 jenis
Kritis (Critically Endangered)-CR 455 jenis
Genting (Endangered)-EN 768 jenis
Rentan (Vulnerable)-VU 670 jenis
Terancam (Near Threaten)-NT 369 jenis
Perlu Perhatian (least Concern)-LC 2.236 jenis
Data Tidak Cukup (Data Deficient)-DD 1.382 jenis


Kodok dalam Angka

- Dari 6.000 jenis kodok di dunia, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh International Union for Conservation and Natural (IUCN) Resources.
- 1.893 berada dalam status terancam dan menuju kepunahan.
- Kodok di Indonesia diketahui 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar.
- Lebih dari 100 jenis lainnya belum dideskripsikan.

Hidup katak dalam tiap tahap pertumbuhannya rentan akan bahaya. Misalnya katak pohon dalam semalam mampu bertelur sampai 500 butir. Dari 20 telur hanya 1 yang akan menjadi katak, dari 10 katak hanya 1 yang hidup lebih dari setahun.

Kodok berdarah dingin, suhu tubuh berubah sesuai suhu udara. Kulit katak mampu beradaptasi untuk menghindari kekeringan. Katak dapat menyerap air dan embun melalui kulitnya.

Amfibi adalah karnivora, sedangkan kebanyakan berudu adalah herbivora.

Predator kodok dan katak, antara lain, ular, burung, dan rakun.

Mekanisme pertahanan beberapa jenis katak dan kodok

Limnonectes mempunyai geligi seperti taring sebagai alat pertahanan diri. Kulit beracun pada jenis Bufonidae dan Ranidae. Biasanya jenis ini baunya menyengat, berwarna terang. Kulit yang sangat lengket pada jenis suku Microhylidae. Beberapa katak menggembungkan tubuhnya.

Perbedaan katak dan kodok

Katak memiliki:
• Kulit yang halus dan berlendir
• Kaki yang panjang dan kuat
• Kaki belakang yang berselaput
• Dua mata yang menonjol
• Bertelur dalam klaster

Kodok memiliki
• Kulit yang kering dan berbintil
• Badan yang buntek dengan kaki belakang pendek
• Kelenjar paratoid di belakang mata
• Bertelur dalam rantai yang panjang

Pemanfaatan kodok

Fenomena pemanfaatan kodok yang berlangsung sampai saat ini adalah pemanfaatan yang tidak berkelanjutan tanpa memedulikan bentuk pelestarian. Bentuk pemanfaatan yang berpotensi menurunkan populasi kodok adalah konsumsi daging paha kodok. Indonesia adalah negara pengekspor daging paha kodok. Negara tujuan ekspor kodok, antara lain, Belanda, Perancis, Belgia, Portugal, Hongkong, dan Korea.

Jenis-jenis yang diekspor adalah kodok penghuni sawah (Fejervarya spp) dan kodok penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (kelompok macrodon). Keunggulan kodok jenis ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan persawahan dan irigasinya. Kemampuan ini membuat ancaman terhadap status populasi di alam akibat pemanfaatan oleh manusia berkurang, didukung pula dengan bertambahnya habitat persawahan di Sumatera.

Beberapa jenis kodok berukuran besar dimanfaatkan kulitnya sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan. Kelompok kodok tersebut adalah dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp), sedangkan dagingnya tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun.

READ MORE - Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan

Katak Baru Hanya Sebesar Kuku

Untuk lihat gambar:

Katak baru dari Pegunungan Andes ini dikelompokkan dalam genus Noblella.



para peneliti berhasil mendeteksi spesies baru katak dari Lembah Cosqipata, Peru, yang unik dengan ukuran tubuh sangat kecil. Tanpa pengamatan seksama, katak yang hanya sebesar kuku jari manusia mungkin akan terlewatkan.

"Karakter yang paling unik dari spesies baru ini adalah ukurannya yang sangat kecil," ujar para peneliti seperti dilaporkan dalam jurnal Copeia edisi terbaru. Katak betina hanya tumbuh hingga sepanjang 1,24 sentimeter saat dewasa, sementara yang jantan hanya 1,11 sentimeter.

Katak yang belum diberi nama ilmiah ini dikelompokkan dalam genus Noblella. Hidupnya pada ketinggian antara 3.025 dan 3.190 meter di Pegunungan Andes. Habitatnya berupa dedaunan yang jatuh di lantai hutan tropis pegunungan tersebut.

Menurut salah satu penelitinya, Alessandro Catenazzi dari Universitas California, AS, habitatnya juga di luar dugaan. Pada ketinggian lebih dari 3.000 meter, biasanya hanya ditemui spesies dengan ukuran lebih besar.

READ MORE - Katak Baru Hanya Sebesar Kuku

Kantong Semar Tumbuhan Langka Paling Terancam

Kelompok kantong semar (Nepenthes) merupakan tanaman di Indonesia yang dikategorikan paling langka, salah satu spesies yang membutuhkan prioritas tinggi untuk segera dikonservasi.

"Tanaman yang dimasukkan dalam prioritas ada 100 spesies, mereka butuh dikonservasi tahun ini juga, kelompok spesies dari kantong semar atau Nepenthes dapat prioritas tertinggi," kata pakar taksonomi dari LIPI, Didik Widyatmoko, yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (5/6).

Menurut Didik, hasil penilaian para pakar tumbuhan pada pertemuan yang digagas LIPI awal pekan ini menetapkan 191 spesies dari empat famili tanaman menjadi prioritas konservasi tahun ini. "Dari 191 diperas lagi jadi 100 spesies," kata Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas itu.

Empat famili itu yakni anggrek-anggrekan (Orchidaceae), palem-paleman (Arecaceae), paku-pakuan (Cyatheaceae), dan kantong semar (Nepenthaceae) adalah taksa-taksa dengan jumlah spesies berkategori terancam punah paling banyak.

Tanaman langka dari famili lainnya menunggu tahap konservasi selanjutnya, ujarnya sambil menambahkan, angka 191 itu diambil berdasarkan referensi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan pendapat para pakar di bidangnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Mustaid Siregar merahasiakan nama spesies kantong semar paling langka tersebut.

"Para pakar mengkhawatirkan publikasi suatu spesies tanaman langka justru akan membuat peminat tanaman berusaha memburu tanaman itu, sehingga kemungkinan tanaman itu semakin punah semakin terbuka lebar," katanya.

Skala prioritas untuk melakukan konservasi terhadap tanaman langka perlu diberlakukan, karena dana, tenaga ahli dan waktu sangat terbatas, sementara tumbuhan yang terancam punah terus meningkat, katanya

Menurut dia, jumlah spesies tumbuhan Indonesia terancam punah yang berkategori kritis (critically endangered), genting (endangered), dan rawan (vulnerable) telah mencapai 513 jenis. Dari jumlah itu 386 spesies tercantum dalam IUCN 2008.

"Jumlah sebenarnya jauh lebih banyak lagi. Indonesia merupakan negara kedua di dunia setelah Malaysia yang memiliki tumbuhan terancam punah, disusul Brasil," katanya.

Skor tertinggi tumbuhan terancam punah dilakukan melalui 17 kriteria, misalnya keunikan taksonomis, distribusi geografis, nilai manfaat, jumlah populasi, dampak eksploatasi, hingga tingkat kemerosotan populasi.

Semakin terbatas suatu tanaman hanya bisa tumbuh di lokasi tertentu (tingkat endemisitas tinggi) maka skornya lebih tinggi, demikian pula jika populasinya terbatas dan terlalu banyak dieksploitasi karena nilai manfaatnya tinggi serta keunikannya yang menonjol.

READ MORE - Kantong Semar Tumbuhan Langka Paling Terancam

Mpu Tantular Favorit Pelajar-Mahasiswa

[ Senin, 15 Februari 2010 ]

HAMPARAN luas lahan Museum Mpu Tantular tampak mencolok dari atas Jembatan Layang Jenggolo, Sidoarjo. Gedung-gedungnya pun berdiri megah di tanah seluas 4,5 hektare. Menyusuri galeri-galeri di Mpu Tantular, pengunjung akan menikmati koleksi dan duplikat benda-benda zaman prasejarah seperti fosil dinosaurus.

"Hanya bayar karcis Rp 1.500 un­tuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak, langsung masuk ruang koleksi," kata petugas meseum de­ngan ramah Rabu (10/2). Itu pun pengunjung masih diberi brosur dan petunjuk ruang koleksi.

Di pintu ruang koleksi, sebongkah batu besar peninggalan Kerajaan Majapahit berdiri kukuh bersama be­berapa arca yang gagah. Deretan ko­leksi lain mengisi ruang ber­ukuran 15 x 10 meter. Ada patung kayu karapan sapi, mata uang kertas berbagai negara, foto Surabaya tempo dulu, hingga temuan-temuan pada abad pertengahan.

"Ruang ini paling disukai pelajar untuk menggarap tugas-tugas se­ko­lah," kata Kepala Bagian TU Mu­seum Mpu Tantular Edi Iriyanto Kamis (11/2).

Pelajar dan mahasiswa kian me­ne­mukan buruannya jika masuk ke lantai dua. Di sana ada 40-an ko­leksi alat peraga pembuktian teori-teori fisika, biologi, dan matematika. Alat peraga itu menjelaskan dengan gamblang, misalnya, hukum Paskal dan Archimedes.

Museum milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim itu juga punya koleksi tunanetra. Ge­dungnya berbeda dengan ruang ko­leksi utama, namun hanya ber­jarak sekitar 20 meter. Berbagai ko­leksi di sana, antara lain, patung dan ukiran kayu, dilengkapi dengan huruf braille. "Bisa diapresiasi oleh pe­nyandang tunanetra," tambah Edi.

Budi Sumarno, salah seorang pe­ngunjung, mengatakan sering me­ngantar anak-anaknya ke Mu­seum Mpu Tantular. Terutama wak­tu liburan sekolah. Dua anaknya yang kini duduk di kelas V dan VIII juga kerap mengerjakan tugas-tugas se­kolah di museum.

"Kalau di sini, gampang cari ba­han tugasnya," ujar Budi. Dia ber­harap agar pengelola Mpu Tantular terus menambah koleksi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Dengan begitu, selain kolektor benda-benda bersejarah, museum bisa menjadi tempat wisata pen­didikan yang menarik.

Edi menyambut baik harapan pengunjung. Menurut warga Ke­camatan Candi, Sidoarjo, tersebut, tamu-tamu dari sekolah dan kampus memang sangat banyak. Mereka datang untuk meneliti berbagai ko­leksi museum. "Misalnya, naskah-naskah kuno koleksi Mpu Tantular ini," terang pria 42 tahun itu.

Animo pengunjung juga luar biasa, khususnya pada masa liburan. Se­panjang Januari 2010 saja, ada sektiar 3.400 pengunjung. Mereka datang enam hari dalam seminggu, yaitu Selasa sampai Minggu. "Senin ruang koleksi diliburkan," tambah pria yang sudah mengabdi di mu­seum selama 20 tahun itu.

Soal penambahan koleksi, Edi memastikan selalu berjalan setiap tahun. Saat ini ada sekitar 15 ribu koleksi di Mpu Tantular. Koleksi tersebut terbagi jadi sepuluh jenis. Antara lain, koleksi zaman pra­se­jarah, klasik, zaman Islam, kolonial, dan zaman modern.

Penambahan koleksi, lanjut dia, lebih banyak bersifat insidental. Yaitu, saat ada temuan benda cagar budaya yang perlu dikonservasi. "Tapi, kendalanya adalah alokasi anggaran," ucap dia.
READ MORE - Mpu Tantular Favorit Pelajar-Mahasiswa

Gaya Fighter versus Elegan



Adu Style JDM Racing ala Guru dan Murid

USIA boleh berbeda jauh. Namun untuk urusan meng up-grade mobil, Christo memiliki selera yang sama dengan Ockydinata, 22, seniornya di klub Street Motorsport. Christo yang pelajar SMP Petra 1 Surabaya itu memermak Suzuki Swift dengan style ala JDM. Hasilnya mobil lansiran 2009 itu bergaya fighter.

Sang senior, Ocky -sapaan Ockydinata-, juga menerapkan modifikasi bergaya JDM untuk mobil Honda Jazz keluaran 2008 miliknya. Namun, style yang diusung sedikit berbeda dengan Christo. Ocky menambahkan sisi elegan pada beberapa part mobilnya, yaitu audio dan interior.

Suzuki Swift 2009

Sejak kecil Christo tertarik dengan Suzuki Swift. Pada ulang ta­hu­nnya yang ke-14, sang ayah menghadiahkan Swift buatnya. Begitu resmi memegang kunci, Christo langsung bertekad mengubah mobilnya menjadi bergaya racing.

Christo ingin mobilnya menjadi lebih sporty dan garang. Untuk itu, dapur pacu menjadi bagian pertama yang dirombak oleh penggemar break dance ini. Sektor ini ia berikan sentuhan khusus, agar performa mesin meningkat.

Air filter orisinil diganti dengan lansiran Simota Carbon. Christo menggunakan air filter berkonsep open. Hal itu membuat mesin mampu menyerap udara secara lebih cepat. Bagian itu disempurnakan lewat penggunaan header knalpot bergaya custom stainless 4-1 serta muffler knalpot OEM Kansai Twin. Hasilnya, Swift ini siap digeber hingga mencapai kecepatan 180 km/jam.

Pindah ke sektor eksterior, gaya JDM makin terasa lewat penggunaan komponen body kit lansiran OEM Swift. Tampilan itu dipermanis wing dari Suzuki Sport. "Bagian eksterior aku bikin full-JDM. Warna putih aku pertahanin karena putih identik dengan JDM. Plus, aku kasih cutting stiker I Love JDM di kaca depan," tutur Christo.

Untuk interior, Christo tidak terlalu banyak melakukan perombakan. Ia hanya mengganti jok orisinil dari Swift. Dengan jok racing lansiran recaro top berwarna merah dan hitam. "Sebenernya belum puas, dengan tampilan yang sekarang. Aku pengin memodifikasi lebih total lagi. Terutama untuk bagian interior ini," ujar Christo.

Honda Jazz 2008

Awalnya, Ockydinata menyukai gaya modifikasi elegan. Namun, ketika menempuh kuliah di Singapura, dia melihat berbagai modifikasi unik bergaya JDM. Sepulang dari sana, Ocky pun bertekad untuk merubah Honda Jazz lansiran 2008 miliknya menjadi berkonsep JDM Racing.

Interior menjadi bagian pertama yang dia ubah. Okky memakai konsep Sound Quality (SQ) terpadu dengan nuansa elegan pada beberapa part. Dia menggunakan head unit lansiran Alpine CDA-9887 dan Subwoofer venom 3012x. Paduan itu mampu menghasilkan kualitas suara yang lebih jernih. "Aku penggemar musik-musik jazz. Jadi audio mobil wajib punya kualitas sound yang jernih," ungkap Ocky.

Beralih ke bagian mesin, Ocky memercayakan penggarapannya pada GUT motorsport. Di memakai sistem air filter tertutup, lewat penggunaan air filter lasiran HKS super power flow reloaded. Sistem ini menjaga udara yang masuk tetap segar sekaligus meminimalisir masuknya udara kotor ke dalam mesin.

Selain part-part tersebut, Okky menambahkan beberapa komponen seperti port and polish berukuran 0,8mm serta radiator cap HKS. Menambah daya dari mobil hingga 10 tenaga kuda dari power sebenarnya. Mobil pun mampu dipacu hingga kecepatan lebih dari 180 km/jam.

"Kalau mau dipacu lebih maksimal, kecepatannya bisa lebih dahsyat lagi. Aku masih pengin melakukan beberapa eksperimen pada mesin mobil ini," ujar Ocky
READ MORE - Gaya Fighter versus Elegan

Pacaran Bikin Semangat

[ Sabtu, 20 Februari 2010 ]

Di kepalaku ada suka

yang menggila

Sudikah kamu mengenalku, mendekati aku

Aku mau, tapi malu...

(Mau tapi Malu,

Maia feat Gita Gutawa)

NGGAK asing dong sama lagu di atas? Lagu itu seakan bisa mewakili perasaan anak-anak muda zaman sekarang. Usia remaja jadi momen pertama mengenal cinta. Mulai suka-sukaan, naksir gebetan, belum lagi masa-masa pedekate, malu-malu tapi mau gitu. Hehe.

Umur berapa mulai pacaran? Ternyata, hasil polling DetEksi pada 2000 dan 2010 nggak jauh beda. Mayoritas responDet kali pertama pacaran di umur 14 tahun. Tapi, pada 2010 ini, nggak sedikit juga yang umur 12 tahun udah kenal cinta. Kebayang nggak sih, itu kan usia-usia anak SMP. Kayak apa ya pacarannya?

Kebanyakan pacar pertama mereka adalah teman sekelas (38,1 persen). Buat apa punya pacar di umur segitu? ResponDet pada 2000 kebanyakan menjawab pengin bersenang-senang, have fun sama pacar (27,6 persen).

Anak muda zaman sekarang nggak jauh beda. Alasan responDet pada 2010 rata-rata sama kok. Beberapa responDet yang diwawancarai DetEksi juga menjawab hal yang sama. Yang pertama, ada Elisa Noelia asal SMA Kartika V-3. Dia pertama punya pacar umur 14 tahun. Nggak jauh-jauh, sama teman sekelas. Kenapa pilih dia? "Ya, dia yang nembak. Aku terima aja, pengin ngerasain pacaran. Buat have fun aja sih," ujarnya.

Have fun yang dimaksud Elisa adalah buat selingan sekaligus penyemangat belajar. "Dari pagi sampai siang belajar. Kalau ada pacar, ada yang menghibur, malam telepon-teleponan. Berangkat ke sekolah juga semangat soalnya bakal ketemu pacar," tuturnya.

Ferdinand Yoel juga mulai naksir lawan jenis sekitar umur 14 tahun. "Mulai su­ka sama cewek, teman sendiri," ucapnya.

Tapi, berhubung masih kecil, Yoel belum berniat pacaran serius. Pacaran baginya adalah buat senang-senang. "Paling kita cerita-cerita, cur­hat, saling dukung juga biar semangat belajar," lanjutnya. Wah, bagus tuh kalau punya pacar dijadikan penyemangat belajar (fry/nor)
READ MORE - Pacaran Bikin Semangat

Belanja Mudah dengan E-Commerse



KITA memang patut berterima kasih kepada penemu world wide web (www) Sir Tim Berners-Lee. Berkat temuan revolusioner itu, kita bisa dipermudah melakukan banyak hal. Termasuk belanja. Shopping online yang populer de­ngan nama e-commerce pun bukan hal susah untuk dilakukan.

Belanja lewat dunia maya itu memang sudah populer. Namun, masih saja ada yang belum memaksimalkan. Padahal, e-commerce memiliki banyak keuntungan. Baik dari segi kepraktisan maupun waktu belanja yang bebas dilakukan kapan saja.

Salah seorang responDet yang memanfaatkan e-commerce adalah Farida Intania di SMAN 9. Cewek itu cukup sering memanfaatkan fasilitas e-commerce. Biasanya sih cewek berzodiak Gemini itu belanja buat kebutuhan fashion.

"Baru beberapa bulan ini aku belanja pakai internet. Awalnya sih iseng aja nyoba beli barang pakai Facebook. Barangnya kan lucu-lucu. Yang jual ada di Bandung, makanya aku ngerasa lebih dipermudah belanja lewat internet. Nggak perlu repot-repot pergi ke sana," ujar Intan.

Benar saja, dalam beberapa hari, barang pesanan Intan sudah sampai di tangan. Dia juga nggak pernah dikecewakan toko online itu. Hal tersebut membuat Intan semakin yakin bahwa belanja di internet itu menyenangkan dan mudah.

Arief Wijaya di SMA Khadijah juga sering menggunakan jasa e-commerce. Cowok satu itu sih lebih memilih untuk membeli barang-barang koleksi. Awal kebiasaan Arief belanja online adalah dari ikutan forum.

Di forum itu, Arief berbagi info tentang macam-macam hal. Yang paling banyak adalah barang-barang kesayangan dan hobi. Biasanya Arief ngobrolin tentang gadget di forum itu.

Si Arief juga pernah coba beli gadget lewat internet. Dengan cara itu, Arief nggak perlu capek keluar rumah. Dia cukup duduk manis di depan laptop dan memilih barang kesukaannya.
READ MORE - Belanja Mudah dengan E-Commerse