Aku Nggak Menunggu

Bodoh!! Siapa yang percaya sepuluh tahun lagi kamu bakal kembali! Orang paling bodoh di dunia pun tahu, kalau memori manusia ngga akan sesempurna itu menyimpan sebuah janji asal yang terucap oleh seorang remaja sok bisa dipercaya kayak kamu! jeritku dalam hati.

“Heh, jangan bengong gitu,dong. Aku pamit nih, kok diem aja?”
“…bodoh..,” kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“hem?” Bagus menautkan alisnya.
“Kamu pikir, aku bakal percaya? Dengan bodohnya menunggu kamu memenuhi ucapanmu barusan,” aku mengangkat wajahku dan menatapnya lurus-lurus.

baca kelanjutan cerita:

Seolah mengerti, sesungging senyum tipis tergurat di bibir Bagus. “Aku nggak minta kamu nunggu. Aku cuma bilang, jangan kaget aku dateng sepuluh tahun lagi.”

“Dan tetep jadi Bagus yang selama ini aku kenal? Mungkin saat itu kamu inget pernah ketemu aku aja enggak.” Aku berpaling dan memandang ke lantai dua gedung sekolah.

“Get real, Gus. Nggak ada orang yang bisa inget siapa dirinya dulu setelah sepuluh tahun berlalu. Kalau mau pergi, ya pergi aja. Nggak usah pake sok-sok perhatian gitu bilang bakal balik segala. Kamu nggak balik pun aku nggak masalah.” Aku tersenyum sinis. “Jangan berharap aku ada disini semisal kamu balik besok. Aku juga pasti udah bakal ada di suatu tempat, mengejar impianku. Emang cuma kamu yang punya mimpi?” tanyaku enteng.

Bagus terdiam. Ha, dia memang selalu kalah beradu argument denganku. Sejak kami pertama kenal dulu, hampir enam tahun yang lalu.
%# %# %#
Sampai sekarang aku masih menyangsikan ucapan Bagus waktu itu.
“Jangan kaget kalau besok aku dateng.”
Mudah sekali kata-kata itu terucap dari mulutnya, setelah dia membeberkan semua rencana masa depannya.
“…jadi aku sekarang ikut orang tuaku ke Darwin. Nah, nanti selulus SMA dari sana, aku bakal lebih mudah meneruskan kuliah ke Amrik. Aku bakal jadi arsitek handal, Ka. Jangan kaget kalau besok aku dateng. Em… sepuluh tahun lagi cukuplah,” ucapnya waktu itu.

Memangnya dia fikir aku bakal menunggu kedatangannya selama itu? Tentu saja nggak. Ribuan bahkan mungkin jutaan orang bakal dia temui dalam kurun waktu sepuluh tahun, mana mungkin dia masih mengingat sebuah nama yang pasaran seperti namaku. Ika.

Aku ingat trik Bagus agar membuatku yakin dia akan kembali. Dia menitipkan padaku gelang hitam yang biasa melingkar di pergelangan kanannya.

“Simpen baik-baik. Suatu saat aku ambil,” katanya sambil menyodorkan gelang itu padaku.

Aku menatapnya. Mencoba membuatku merasa berdosa jika melupakanmu? Batinku. Tetap diam, aku menerima gelangnya dan bertekad tidak akan menganggap kata-katanya barusan. Begitu berpisah dengan Bagus sore itu, dengan berjinjit-jinjit aku meletakkan gelang itu di bagian atas lemari kotak kerdus makanan di tempat lik Basuki.

“Hei, Ka. Udah waktunya pulang nih. Jangan kerja mulu,” seorang teman menepuk bahuku sambil berlalu.

“Tanggung, Dis. Dikit lagi selesai, kok,” sahutku sambil kembali menekuri layar laptop di hadapanku.

Tak berapa lama kemudian, seseorang datang sambil membawa dua mug teh hangat dan menyodorkan satu ke hadapanku.

“Nih, istirahatin dulu tuh mata.”

Aku tersenyum. “Thanks, Ya,” ucapku sambil menerima mug darinya.
“Belakangan ini kamu lembur terus, Ka?” Tanya Surya sambil bersandar di meja sebelah mejaku dan menyeruput tehnya.

“Kebetulan lagi mood aja nyelesein semua cepet-cepet. Biar cepet dapet promosi keluar,” kilahku setelah menyeruput teh dan kembali memandang screen laptop.

“Masih pengen keluar, Ka? Bukannya baru tahun lalu kamu bantu ngeliput k Singapore?” Tanya Surya.

“Itu kan cuma ngebantu bentar doang, Ya. Aku pengen posisi yang lebih mantap di negeri yang lebih keren juga.” Ujarku sambil memutar kursi menghadap Surya, nggak enak juga diajak ngobrol tapi tetep mantengin kerjaan. Jam delapan lewat dua puluh menit, aku melirik jam tangan.

“Ke Amrik gitu?” Tanya Surya.

Amrik? Sekilas aku teringat seseorang. “Ya nggak mesti Amrik lah, Negara maju di dunia kan banyak. Bisa Jepang, atau Eropa..”
%~%~%
Pekan ini ada tanggal merah dua hari, jadi total bisa libur empat hari. Kangen juga ketemu bapak. Udah berapa lama ya, nggak pulang? Ah, sepertinya aku perlu refreshing juga, jadi ku putuskan hari Rabu besok aku akan pulang ke Magelang

Tiga hari kuhabiskan bersama keluarga di Magelang, selama dalam perjalanan kembali dari Magelang menuju Jogja untuk kemudian naik kereta ke Jakarta, ada sesuatu yang terus membayang dalam pikiranku.

Sepuluh tahun, ini udah sepuluh tahun sejak hari itu. Ah, konyol, mana mungkin, Ka. Dia pasti sedang entah berada dimana sekarang. Apalagi dia tidak pernah mengatakan kapan persisnya setelah sepuluh tahun itu dia akan kembali. Kembali? Memang untuk apa dia kembali? Aku tersentak menyadari pertikaian batinku sendiri. Hhh…, aku menghela nafas.

Aku berdiri menatap gedung putih besar di hadapanku. Aku putuskan mampir sebentar ke sekolahku di pinggiran kota Jogja. Belum banyak yang berubah. Namanya juga sekolah di pinggiran kota, mana mungkin terjadi perubahan besar dalam beberapa tahun. Sekolah ini, tempatku menghabiskan waktu dalam balutan seragam putih abu-abu. Jembatan di depan gerbangnya, adalah tempat dulu dia mengucapkan “perpisahan” padaku. Argh, selama sepuluh tahun ini aku cukup bertahan tidak mengingat-ingatnya, tidak mengingat begitu banyak kejahilan yang dia lakukan padaku sejak SMP, tidak mengingat kenakalan yang kami lakukan bersama - dulu dia sering mengajakku memotong jalan ketika lari jauh di pelajaran olahraga, dan tidak mengingat pertengkaran-pertengkaran kami yang kebanyakan berakhir dengan kemenangan di pihakku.

Tiba-tiba semuanya tergambar jelas, seperti baru kemarin aku mengalaminya. Berdiri di luar kelas selama jam pelajaran terakhir dalam keadaan basah kuyup karena nekat meninggalkan pelajaran setelah istirahat pertama untuk bermain basket di tengah hujan di bekas lapangan belakang sekolah. Waktu itu, kita berdua sama-sama gengsi untuk kelihatan menggigil kedinginan, walaupun keesokkan harinya kita sama-sama kena flu berat. Bagus, Bagus.., terima kasih atas semua kenangan itu. Meskipun aku yakin kamu pasti sudah melupakanku, kenangan-kenangan itu tetap menjadi bagian dari diriku. Aku berjalan meninggalkan gerbang SMA sambil terus berpikir.

Ayah saja, yang sudah terikat pernikahan dengan ibu, bisa begitu mudahnya melupakan ibu dan menikah lagi setelah dua tahun kepergiannya. Aku tidak berkeberatan dengan hal itu, hanya saja aku merasa belum siap menerima kenyataan hingga memilih untuk tidak ikut pindah bersama ayah ke Magelang, tempat istri barunya. Aku lebih memilih untuk tinggal “numpang” di rumah Lik Basuki, yang istrinya adalah sahabat ibu. Sebagai ucapan terima kasih, setiap sore aku bantu-bantu di warung makan sate-nya di dekat pasar. Bersih-bersih, mencuci piring, membakar sate, aku lakukan apapun yang aku bisa, karena lik Basuki tidak mempunyai tenaga bantu selain istrinya sendiri.

Tanpa aku sadari, tinggal beberapa langkah lagi aku sampai ke warung makan Lik Basuki. Ah, kangen juga bertemu dengan beliau berdua. Aku pun mempercepat langkahku.
Warung makan Lik Basuki ini sekarang sudah jadi lebih besar. Anak-anak Lik Basuki pun sekarang ikut membantu pekerjaan orang tuanya. Ketika sedang berbincang dengan Lik Basuki dan istrinya, tiba-tiba ada seorang pelanggan yang minta disediakan makanan nasi kerdus berjumlah 20 kotak.

“Biar aku bantu ambilin kotak-kotaknya ya, Lik,” tawarku sambil beranjak menuju lemari paling besar di warung itu. Masih sama seperti dulu, kotak-kotak yang sudah dibentuk diletakkan di atas lemari itu. Karena di bagian dalamnya adalah tempat menyimpan piring-piring, gelas dan peralatan lain untuk pesanan hajatan.

Tanganku menggapai-gapai tumpukan kerdus. “Duh, sampai sekarang kenapa masih harus jinjit ya?” gumamku pada diri sendiri.

Ah, aku teringat sesuatu. Dengan lebih jinjit aku berusaha meraba-raba sebelah tumpukan kotak kerdus itu. “Dimana benda itu, dulu sepertinya aku taro sekitar sini..”

“Dari dulu sampai sekarang tinggimu nggak tambah-tambah, ya?” sebuah tangan meraih tumpukan kerdus lewat atas kepalaku.

Aku berbalik. “Nih, butuh berapa lagi?” Tanya si pemilik tangan itu.
Pria di hadapanku ini mengenakan celana hitam dan kemeja panjang yang lengannya dilinting. Wajahnya hampir sama seperti terakhir kali aku melihatnya, yang berbeda sekarang jauh tampak lebih dewasa dengan kacamata setengah frame yang bertengger di hidungnya.

“Bagus..”

“Nggak usah terpesona gitu, deh, Ka. Kamu juga udah jauh lebih dewasa dengan setelan blus dan rok itu. Mirip bos-bos perawan tua di kantoran,” ucapnya sambil mendekat ke telingaku.

Aku tersenyum, tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan yang meluap-luap di hatiku.

“Mana?” Tanya Bagus.

“Hem?” aku menautkan kedua alisku. Sesaat kemudian aku menyadari apa maksudnya.

“Di sini. Dulu begitu kamu pergi gelang itu aku taruh disini,” jawabku sambil kembali meraba sambil berjinjit ke atas lemari.

“Kenapa ditaruh disitu? Kenapa nggak disimpen?”

“…” aku tetap berusaha mencari di atas lemari.

“Karena kamu nggak percaya sama kata-kataku.” Bagus menarik pergelangan tangan kananku.

“Aku sudah bilang aku akan kembali. Kembali sebagai Bagus dewasa yang bisa membuktikan semua ucapanku, bukan Bagus yang dengan bodohnya meminta seseorang menunggu.” Bagus memakaikan gelang hitam yang aku cari-cari itu di pergelanganku. Belakangan baru aku tahu bahwa Bagus menemukan gelang itu
tepat sebelum keberangkatannya ketika pamit pada Lik Basuki.

“karena aku tahu, tanpa aku minta menunggu pun, kamu akan melakukannya untukku.”


Selesai
READ MORE - Aku Nggak Menunggu

Matikan BlackBerry Anda Sekarang Juga


Psikolog Inggris yang meneliti perilaku orang dalam menggunakan BlackBerry secara terus-menerus menyebut, perangkat itu bisa meningkatkan tingkat stress, dan kemungkinan besar juga menurunkan produktivitas.

Kebiasaan sekelompok eksekutif menengah hingga senior dalam menggunakan BlackBerry dipelajari oleh Amir Khaki dari AK Consulting dan menggolongkannya menjadi pengguna dengan frekuensi tinggi dan rendah.

Pengguna “tinggi” biasanya mengaktifkan BlackBerry selama dalam perjalanan menuju tempat bekerja, saat terjaga di malam hari dan selama akhir pekan. Sementara pengguna dalam kategori “rendah” umumnya hanya mengalokasikan waktu tertentu untuk memeriksa BlackBerry dan merespon email.

“Orang-orang yang jatuh ke kategori pengguna yang tinggi cenderung memiliki persepsi menyimpang tentang penggunaan pribadi dan mereka menyamakan penggunaan BlackBerry seperti didedikasikan untuk pekerjaan,” kata Khaki.

Tapi antusiasme menggunakan BlackBerry itu ternyata tidak berarti efisiensi menyangkut pekerjaan. Dalam satu contoh yang diamati Khaki, untuk menyelesaikan sebuah spreadsheet sederhana seharusnya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tetapi user tinggi, bisa tiga kali lebih lama karena memantau BlackBerry-nya.

Efek dari gangguan itu adalah menciptakan kecemasan. “Pekerjaan tidak selesai seperti seharusnya. Ketergantungan itu tercipta bila tidak dapat menemukannya, dan itu dapat menyebabkan stres,” katanya.

Sementara perhatian pengguna tinggi juga terdorong untuk teralihkan dari pasangannya dan kadang-kadang menyebabkan kehancuran. “Banyak yang benci. Aku dengar cerita ada yang hingga parah,” kata Khaki.

Khaki menyarankan perusahaan yang membekali karyawannya smartphone setidaknya menyediakan pelatihan tingkat dasar. “Anda perlu tahu bagaimana menggunakannya dengan benar. Bagaimanapun kita mendapatkan pelatihan, ketika setiap teknologi lain datang,” kata Khaki.

Ia menyarankan perusahaan untuk mendorong karyawannya melakukan pembatasan penggunaan. Secara keseluruhan Khaki merekomendasikan maksimum 12 jam selama sepekan jam kerja.

Pada tingkat pribadi, Khaki memberikan nasihat sederhana: “Pada awal setiap tugas, matikan! Gangguan tidak membantu orang melakukan sesuatu menjadi lebih baik, lebih cepat atau kualitas lebih tinggi.”

Ia menambahkan penelitian menunjukkan orang yang banyak merespons email lebih sedikit menyia-nyiakan waktu, dan melakukan pekerjaan lebih baik.

Apalagi dengan semakin banyak orang yang mengupgrade ponselnya ke smartphone, masalah menyangkut produktivitas dan stres pasti akan naik, karena makin banyak eksekutif yang menemukan garis yang kabur antara pekerjaan dan waktu senggang.

Kecenderungan itu juga mengusik Cary Cooper, Profesor Psikologi dan Kesehatan Organisasi di Universitas Lancaster Inggris Management School. “Kami menemukan orang-orang melakukan pekerjaan di waktu luang mereka dan itu memiliki konsekuensi baik pada kesehatan maupun produktivitas mereka,” kata Cooper.

Ia mengatakan semua teknologi seharusnya menjadi sistem pendukung sosial manusia. Tapi sebaliknya malah seperti tali pusar yang menghubungkan kembali ke tempat kerja, bahkan ketika di luar jam kerja. “Saya pikir apa yang akhirnya terjadi adalah teknologi adalah mengelola orang-orang daripada orang-orang mengelola teknologi,” tambahnya.

Cooper menilai resesi bisa memperparah masalah. “Gunakan BlackBerry secara rasional. Jika sedang berlibur, akses sekali saja setiap dua hari, jelaskan Anda sedang bepergian dan akan merespon saat Anda kembali.”
READ MORE - Matikan BlackBerry Anda Sekarang Juga

Membuat Air mata pada photo

by chantika dewi lestari










Pada tutorial Photoshop ini saya ingin mengundang perhatian Anda teknik unik cara membuat efek air mata .

Jadi, pada awalnya anda harus mencari gambar yang bagus untuk mulai bekerja . You can Anda dapat mencoba mencari stok foto di situs web atau juga bisa menggunakan gambar ini. Bukalah gambar. Kemudian pilih Pen Tool dan mencoba untuk membuat bentuk baik air mata dengan warna hitam.

Realistic View Tears on Face 01

buatlah benttuk seperti diatas dan usahakan untuk tidak merata agar nanti serupa dengan air mata yang nyata. Ketika kita selesai dengan bentuk diatas, kemudian ubah mode layer ke Screen untuk menerapkan lapisan dan menerapkan Blending Options berikut:
Drop Shadow
Inner Shadow
Inner Glow
Bevel and Emboss
Gradient Overlay

Realistic View Tears on Face 02

Realistic View Tears on Face 03

Realistic View Tears on Face 04

Realistic View Tears on Face 05

Realistic View Tears on Face 06

Hasilnya seharusnya berikutnya:

Realistic View Tears on Face 07

Terlihat bagus, tetapi tidak terlalu nyata untuk saat ini. Saya ingin membawa cahaya putih ke hasil kerja kita ini. Pilih Pencil Tool dan sikat sekitar 1 piksel, kemudian membuat beberapa titik dengan warna putih pada layer baru seperti pada gambar di bawah ini.

Realistic View Tears on Face 08

Setelah itu pilih Blur Tool untuk lapisan layer baru ini.

Realistic View Tears on Face 09

Hasilnya tampak nyata bukan ? Jangan takut untuk mencoba dan Anda akan mendapatkan efek indah Anda sendiri!

READ MORE - Membuat Air mata pada photo

5 Induk Hewan Terkejam di Dunia

1. Kumbang Penggali (Burying Beetle)
http://www.efabre.net/files/fabre/burying-beetle.jpg
Ibu kumbang akan memberi makan setiap anak-anaknya, satu per satu…
namun ketika jumlah makanan habis, maka anak terakhir bukan hanya tidak mendapat jatah makan, namun juga akan dimakan hidup-hidup oleh ibunya.
ngeri ya gan…

Are They The Worst?
Kumbang Penggali biasanya tinggal di dalam bangkai tikus. Dan ibu Kumbang selalu bertelur dengan jumlah lebih banyak dari yang jumlah makanan yang ada (bangkai tikus) maka untuk meningkatkan kesempatan bertumbuh yang lebih besar bagi semua keluarga, jumlah anak harus dicukupkan dengan jumlah makanan, bukan sebaliknya…

2. Panda
http://static.guim.co.uk/Guardian/environment/gallery/2007/nov/12/wildlife/Giant-panda1C-David-Sheppar-8146.jpg
Ibu Panda hanya akan memelihara satu anak, jika dia memiliki lebih dari satu, maka yang lainnya akan ditinggal begitu saja di alam liar. Sementara ‘anak kesayangannya’ tumbuh sehat dengan asupan makanan yang cukup, anak yang lainnya akan kurus kering tak berdaya.

Are They The Worst?
Ibu Panda memang tidak mungkin menyediakan makanan untuk anak yang kedua atau setelahnya, jadi selama 8-9 bulan pertama (setelah itu anak panda bisa mencari makanan sendiri), anak-anak panda yang tidak dapat makanan (termasuk ASI) cukup harus bertahan sendiri, jika tidak bisa pastilah mereka akan mati.

3. Hamster
http://www.petwebsite.com/hamsters/hamsters_images/hamster_1301300.jpg
Ibu Hamster sering membunuh anaknya sendiri.

Are They The Worst?
Ibu Hamster selalu mempunyai anak yang ‘berlebihan’, untuk memastikan semua anaknya sehat dan sempurna. Jika ada anak yang tidak sempurna maka paling tidak masih ada ‘cadangannya’. Dan anak yang tidak lolos ‘quality control’ akan dimakan hidup-hidup, bisa juga berdasarkan jumlah makanan yang tersedia.

4. Elang Hitam
Ibu Elang sama sekali membiarkan ketika anak-anaknya bermain-main di sarangnya, walaupun sering kali permainan itu mengakibatkan kematian.

Are They The Worst?
Jumlah makanan yang tersedia terkadang tidaklah banyak, dan sulit didapat. Maka dari itu ibu Elang membiarkan permainan berbahaya ini, sebagai ujian agar, anak-anak yang kuatlah yang bertahan.

5. Kelinci
http://muhdiya.files.wordpress.com/2009/07/kelinci.jpg
Ibu Kelinci akan langsung meninggalkan anak-anaknya di lubang setelah mereka dilahirkan, dan selama 25 hari pertama, sang ibu hanya akan ‘menengok’ dan memberi makan anaknya tak lebih dari 2 menit per hari.

Are They The Worst?
Anak kelinci merupakan makanan empuk dan menggiurkan bagi para pemangsa, maka dari itu sang ibu selalu berusaha agar lubang tempat tinggalnya rahasia, caranya dengan sesedikit mungkin waktu yang dihabiskan di dekat lubangnya. Setelah 25 hari barulah anak-anak kelinci bisa mencari makan sendiri.
READ MORE - 5 Induk Hewan Terkejam di Dunia

Membuat Tulisan Dengan Efek Api











Dalam tutorial ini Anda akan mempelajari cara membuat teks pada api, juga saya akan menjelaskan semua teknik bagaimana mengubah teks dalam format yang tepat.

Pertama-tama Anda harus mulai dengan mencari beberapa gambar yang sesuai. Saya lebih suka menggunakan yang satu ini yang dapat Anda lihat di bawah ini:

Text on Fire

Ok, sekarang kita perlu menambahkan teks ke kanvas untuk bekerja dengan. Mengeluarkan Horizontal Type Tool dan menulis sesuatu seperti 'Fire' dengan warna yang Anda inginkan.

Text on Fire 2

Dalam gambar di atas saya mengunakan Avantgarde sebagai pilihan font. Sebenarnya, ini komersial, tetapi jika Anda tidak memilikinya, Anda dapat dengan mudah menemukan alternatif lain yang baik. Setelah itu saya ingin menambahkan beberapa lapisan efek gaya seperti Drop Shadow, Outer Glow, Inner Glow, Satin dan Color Overlay untuk lapisan teks ini.

Text on Fire 3

Text on Fire 4

Text on Fire 5

Text on Fire 6

Text on Fire 7

Text on Fire 8

Ok, pindah ke langkah berikutnya. Setelah itu membuat layer baru di atas dan bergabung dengan lapisan teks untuk mendapatkan semua efek dalam satu lapisan. Kemudian pilih Smudge Tool (Brush: 10 px, Mode: Normal, Strength: 79%) dan mencoba untuk membuat beberapa stroke seperti pada gambar saya yang dapat anda lihat di bawah ini.

Text on Fire 9

Kemudian menerapkan Filter> Liquify dan bermain sedikit dengan alat yang berbeda untuk mendapatkan hasil maksimum sama dengan saya:

Text on Fire 10

Dan yang terakhir satu hal yang perlu kita lakukan adalah meletakkan kata ke dalam api. Untuk efek ini pilih Eraser Tool dan sikat bulat yang lembut sekitar 20 piksel (Opacity: 40%) dan hapuslah beberapa bagian sehingga bagian itu akan terlihat kabur untuk menyelesaikan tutorial ini.

Teks on Fire 11 title =

lihat bagus bukan hasilnya. Terima kasih sudah membaca tutorial ini . Saya harap anda berhasil dalam menyelesaikan tutorial ini

READ MORE - Membuat Tulisan Dengan Efek Api